Rahasia Panjang Umur dan Kebugaran Fisik Orang Asli Papua

Jimianus Karlodi • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 10:22 WIB
Dr. Daniel Womsiwor, S.Pd., M.Fis., AIFO-P,
Dr. Daniel Womsiwor, S.Pd., M.Fis., AIFO-P,

Jika Olahraga Dianggap Kurang Penting Maka Siap-siap Stroke, Diabet dan Cuci Darah 

Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-43 pada tahun 2026 menjadi momentum krusial untuk menyoroti tingkat kesehatan dan kebugaran masyarakat di Tanah Papua. Ada sedikit tips bagaimana bisa bisa tetap sehat dan umur panjang.

Laporan: Jimianus Karlodi_Kota Jayapura

Di balik dinamika pembangunan di Tanah Papua, ada persoalan yang kian mengancam masa depan manusianya. Ini bisa dikaitkan dengan populasi yang memiliki korelasi soal apa saja penyebabnya. Jika orang tua - tua dulu memiliki umur yang cukup lama namun di era sekarang justru tak sedikit yang berpulang dalam usia muda. Berbagai jenis penyakit juga bermunculan. Tubuh harus bisa membendung ini dan mengantisipasi ancaman penyakit degeneratif.

Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-43 tahun 2026 menjadi momentum krusial bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengevaluasi kembali makna penting aktivitas fisik harian. Gaya hidup pasif, pola makan yang tidak terkontrol, serta minimnya kesadaran berolahraga kini memicu ledakan kasus penyakit jantung, stroke, diabetes melitus, hingga gangguan ginjal yang mengintai masyarakat sejak usia muda.

​Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Cenderawasih (FIK Uncen) sekaligus pakar Fisiologi Manusia, Dr. Daniel Womsiwor, S.Pd., M.Fis., AIFO-P, menyoroti kekeliruan mendasar dalam memandang kondisi fisik tubuh bagi masyarakat yang cenderung berolahraga. Menurutnya, banyak orang merasa aman hanya karena tidak merasakan gejala sakit, padahal tingkat kebugaran organ dalamnya berada dalam kondisi rentan. 

Kebugaran fisik memerlukan latihan terstruktur yang melatih jantung, paru-paru, serta otot agar mampu menahan beban aktivitas harian tanpa kelelahan berlebih. ​Tuntutan ekonomi dan rutinitas harian kerap membuat aktivitas fisik terabaikan dalam pola hidup masyarakat Papua modern. Kesibukan kerja sering kali dijadikan alasan utama untuk mengesampingkan olahraga, yang pada akhirnya mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh.

​"Saya ingin memberikan pesan khusus bagi pemerintah dan masyarakat Papua bahwa ada kecenderungan masyarakat Papua melihat olahraga sebagai suatu aktivitas yang kurang begitu penting dibanding pekerjaan utamanya, entah itu sebagai ASN, TNI, Polri, petani, nelayan, buruh, maupun ibu rumah tangga," kata Daniel dengan tegas.

​Abaikan terhadap gaya hidup aktif dan pola makan sehat ini berdampak langsung pada penurunan kualitas organ tubuh serta mempercepat proses penuaan sel. Dampak fatal dari kondisi tersebut adalah tingginya risiko kematian mendadak akibat serangan jantung atau komplikasi pembuluh darah pada kelompok usia produktif.

​"Antara pekerjaannya dan pola hidup atau pola makan kurang diperhatikan sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya proses penuaan dan kematian dini bagi hampir seluruh suku-suku asli di Tanah Papua, padahal di setiap kitab suci termasuk Alkitab Mazmur 90 ayat 10 sudah tertulis masa hidup manusia yaitu 70 sampai 80 tahun," jelasnya mengutip dari Alkitab.

​Lebih lanjut, pakar Fisiologi Manusia Uncen itu menjelaskan bahwa berdasarkan ​catatan statistik menunjukkan, tingkat Usia Harapan Hidup (UHH) Orang Asli Papua (OAP) masih menghadapi tantangan besar jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia.  Padahal jelasnya, potensi biologis untuk mencapai usia lanjut bagi masyarakat Papua secara umumnya sangat memungkinkan apabila didukung oleh faktor lingkungan dan gaya hidup yang tepat.

​"Fakta di Papua sejak tahun 1969 hingga 2026, Usia Harapan Hidup OAP masih di bawah angka 70 tahun. Meskipun sampai hari ini ada satu manusia tertua di Biak bernama Aksamina Womsiwor di Kampung Mamoribo, Biak Barat, yang lahir pada tahun 1919 dan masih hidup sampai sekarang—kurang lebih berusia 108 tahun," ungkap akademisi FIK Uncen itu.

Bukan tanpa alasan ia menyampaikan hal tersebut mengingat, ​Aksamina Womsiwor menjadi bukti hidup bahwa genetika manusia Papua memiliki potensi untuk mencapai usia di atas satu abad. Namun, keberadaan lansia berusia lanjut kini menjadi pemandangan yang makin langka akibat perubahan pola hidup masyarakat urban maupun rural. 

Menurutnya, penyebab proses penuaan dan kematian dini di Papua antara lain terjadi karena pola makan atau kebiasaan jajan di antara waktu makan, malas bergerak atau kurang olahraga, tidak mengontrol berat badan, sering kurang tidur malam kurang dari enam (6) jam, suka miras dan minuman botol, kaleng, makan sirih dan kapur, hingga jarang memeriksa kesehatan secara rutin ke fasilitas kesehatan terdekat.

​Tak sampai disitu dosen sekaligus doktor itu menyampaikan bahwa kebiasaan buruk yang menumpuk selama bertahun-tahun merusak sistem metabolisme dan memicu munculnya berbagai komplikasi kesehatan berat juga menjadi penyebab utama. Penyakit seperti kolesterol tinggi, asam urat, dan gula darah tidak lagi hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga merambah kelompok usia muda.

​"Secara umum sejumlah masalah tersebut menjadi penyebab Angka Harapan Hidup OAP menjadi terpendek di Indonesia dan bahkan dunia. Penyakit degeneratif seperti kolesterol sebagai penyebab serangan jantung, diabetes melitus atau gula darah, asam urat, dan lain-lain, semua inilah yang mengancam hidup OAP sehingga sudah semakin sulit bagi kita di Papua untuk menemukan manusia lanjut usia di setiap kampung ataupun kota," tutur Daniel.

​Menanggapi kondisi kritis ini, kata Daniel langkah penanganan tidak hanya ditempuh dengan membangun gedung rumah sakit baru atau menambah fasilitas pengobatan medis. Namun yang tak kalah penting, penanganan di tingkat hulu yakni pencegahan melalui aktivitas fisik yang teratur dan perubahan gaya hidup merupakan kunci utama untuk menyelamatkan generasi Papua dari krisis kesehatan.

Kondisi ini sampaikan mengingat selama ini, perhatian dan alokasi anggaran pemerintah daerah cenderung tertuju pada sektor olahraga prestasi demi meraih medali dan gengsi daerah. Sektor olahraga kesehatan yang menyasar masyarakat luas sering kali kurang mendapatkan porsi penganggaran yang seimbang. ​Perubahan paradigma dalam pengelolaan kesehatan masyarakat harus segera dimulai dari tingkat lembaga pemerintahan. Kebugaran fisik jajaran pimpinan dan masyarakat umum merupakan fondasi utama keberlanjutan pembangunan di Tanah Papua.

Karena itu ia berharap ​lembaga pemerintahan di seluruh wilayah Tanah Papua harus mulai menyusun regulasi pendukung, seperti penyediaan ruang terbuka hijau untuk aktivitas publik, ajakan olahraga rutin di lingkungan kerja, serta edukasi masif mengenai bahaya konsumsi gula dan alkohol berlebih.

Hal ini dilakukan bertujuan agar Papua tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil atlet berprestasi, tetapi juga sebagai wilayah dengan masyarakat yang bugar, produktif, dan memiliki tingkat harapan hidup yang tinggi hingga usia lanjut. ​Dengan demikian, keberadaan lansia berusia di atas 70 tahun di kampung-kampung Papua tidak lagi menjadi fenomena yang langka, melainkan indikator nyata dari keberhasilan pembangunan manusia di Tanah Papua.

​Karenanya sudah saatnya lembaga-lembaga Pemerintah di Tanah Papua berpikir untuk bagaimana masyarakat tidak hanya sehat tetapi bugar dan panjang umur. "Harus ada program pembinaan Olahraga Kesehatan agar masyarakat dan juga para pimpinan atau pejabat di Papua tidak lagi meninggal dunia karena serangan jantung, stroke, gula darah, dan asam urat," pungkas Dr. Daniel Womsiwor. (*)

Editor : Abdel Gamel Naser
kebugaran fisik Ceposonline.com Orang Asli Papua OAP