CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Rabu (22/10/2026), setelah sebelumnya ditutup menguat sebesar 54 poin menjadi Rp 17.992 per dolar AS pada perdagangan Selasa (20/10/2026).
Dilansir dari JawaPos.com, pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.
"Untuk perdagangan (21/10) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.990 - Rp 18.040,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Rabu (21/10/2026).
Pernyataan terbaru dari para pejabat The Fed juga mengisyaratkan keterbukaan terhadap pengetatan lebih lanjut, meskipun mereka belum memberikan sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga pada pertemuan tanggal 27–28 Oktober.
Saat berbicara di Bangkok pada hari Jumat, Ketua The Fed Kevin Warsh tetap pada pendiriannya untuk menghindari pemberian panduan ke depan, dengan menyatakan, “Saya tidak ingin berprasangka terhadap hasil pertemuan mendatang.”
Ibrahim mengatakan, minggu ini, agenda ekonomi AS tidak akan diisi oleh pidato dari para pejabat Federal Reserve (The Fed) karena bertepatan dengan periode blackout (masa tenang) menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Oktober.
“Namun, sejumlah data ekonomi tetap akan dirilis, seperti data mingguan klaim tunjangan pengangguran, serta data awal (flash) PMI dari S&P Global,” ujarnya.
Sementara itu, dari dalam negeri realisasi investasi Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai Rp 1.539,2 triliun atau 75,4 persen dari target tahun ini, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 2.194.496 orang.
Capaian realisasi investasi triwulan III 2026 mencapai Rp 528,7 triliun. Sementara itu, total investasi dari Januari sampai September 2026 mencapai Rp 1.539,2 triliun atau 75,4 persen dari target.
Realisasi investasi selama sembilan bulan pertama 2026 terdiri atas penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 777,8 triliun atau 50,5 persen dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 761,4 triliun atau 49,5 persen.
Dari sisi sektor, industri logam dasar serta barang logam yang bukan mesin dan peralatannya menjadi penyumbang terbesar PMA, dengan nilai Rp 216,6 triliun atau 31,7 persen. Sementara itu, sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi mendominasi PMDN dengan realisasi Rp 117,8 triliun atau 15,5 persen. (*)
Editor : Weny Firmansyah