CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Bursa kerja atau job fair selama ini menjadi salah satu tempat yang diandalkan masyarakat untuk mencari pekerjaan. Ribuan pencari kerja rela mengantre berjam-jam dengan membawa berkas lamaran demi mendapatkan kesempatan bekerja.
Namun, di tengah tingginya antusiasme tersebut, efektivitas job fair mulai dipertanyakan. Jumlah pencari kerja yang datang dalam satu kegiatan sering kali jauh lebih besar dibandingkan posisi yang benar-benar tersedia.
Fenomena itu menjadi sorotan dalam tayangan kanal YouTube Aneh Memang berjudul “Jobs Fair: Ribuan Pencari Kerja, tapi Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?”.
Tayangan tersebut mengkritisi penyelenggaraan job fair yang dinilai tidak selalu memberikan kepastian kepada para pelamar. Mereka yang telah mengikuti proses pendaftaran dan seleksi disebut tidak jarang harus menunggu tanpa kejelasan mengenai hasil lamaran.
Bagi pencari kerja, mengikuti job fair juga membutuhkan biaya. Selain transportasi, pelamar harus menyiapkan dokumen lamaran dan terkadang mengikuti berbagai tahapan administrasi yang ditetapkan perusahaan.
Dilansir dari RadarTuban, masalah muncul ketika proses tersebut tidak diikuti dengan informasi yang jelas mengenai perkembangan lamaran.
Tayangan Aneh Memang juga menyoroti penggunaan kode QR dan portal daring dalam proses pendaftaran. Mekanisme digital tersebut dinilai berpotensi menjadi sarana pengumpulan data pelamar dalam jumlah besar.
Meski demikian, penggunaan sistem digital dalam proses rekrutmen tidak serta-merta membuktikan adanya penyalahgunaan data. Perlu ada bukti serta penjelasan dari perusahaan atau penyelenggara untuk memastikan bagaimana data pelamar digunakan dan dilindungi.
Selain itu, fenomena ghosting dalam proses rekrutmen turut menjadi perhatian. Pelamar yang telah mengikuti tahapan seleksi terkadang tidak memperoleh informasi lanjutan mengenai status lamaran mereka.
Dalam tayangan tersebut, job fair bahkan digambarkan secara kritis sebagai “teater keputusasaan”. Narasi itu merujuk pada kondisi ketika tingginya harapan pencari kerja tidak sebanding dengan kesempatan kerja yang tersedia.
“Namun realitasnya sistem ini telah bermutasi menjadi mesin eksploitasi massal,” demikian narasi dalam tayangan tersebut.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan dalam tayangan yang mengkritisi model penyelenggaraan bursa kerja, bukan kesimpulan bahwa seluruh job fair atau perusahaan peserta melakukan praktik serupa.
Sebab, job fair tetap memiliki fungsi penting sebagai ruang pertemuan antara pencari kerja dan perusahaan. Persoalannya adalah bagaimana kegiatan tersebut dapat memberikan hasil yang terukur bagi masyarakat.
Keberhasilan job fair semestinya tidak hanya diukur dari jumlah perusahaan yang membuka stan atau banyaknya pencari kerja yang hadir.
Indikator yang lebih penting adalah jumlah posisi yang tersedia, jumlah pelamar yang mengikuti proses seleksi, serta berapa banyak peserta yang akhirnya benar-benar mendapatkan pekerjaan.
Transparansi mengenai proses rekrutmen juga menjadi penting. Pencari kerja perlu mengetahui persyaratan, jumlah posisi, tahapan seleksi, hingga mekanisme pemberitahuan hasil.
Dengan demikian, job fair tidak berhenti sebagai kegiatan yang ramai secara jumlah pengunjung, tetapi benar-benar menjadi jembatan antara pencari kerja dan dunia usaha. (*)
Editor : Elfira Halifa