Hanya Punya Ini, Tukang Becak di Kulon Progo Dianggap Kaya dan Mendadak Naik Desil 9?

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 05:03 WIB
Ilustrasi. (AI)
Ilustrasi. (AI)

CEPOSONLINE.COM - Perasaan gembira bercampur beban tengah melingkupi Timbul, 49, tukang becak asal Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, DIY. 


Putra sulungnya, Lutfi Arya Wijaya, 18, berhasil diterima di Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). 


Namun, kebahagiaan itu seketika sirna setelah Timbul mengetahui status tingkat kesejahteraan sosial (desil) keluarganya mendadak melonjak pesat dari Desil 1 langsung ke Desil 9.


Dilansir dari radarsolo.jawapos.com, lonjakan status yang mengelompokkan keluarganya sebagai golongan "mampu" ini otomatis menutup akses keringanan biaya pendidikan maupun bantuan sosial (bansos). 


Bahkan, angka Desil 9 milik Timbul terbilang ironis karena tercatat lebih tinggi dibanding tingkatan desil milik Lurah Ngentakrejo yang berada di angka 8.


Bagaimana kenaikan desil secara drastis dari seorang tukang becak ini bisa terjadi? Apakah Timbul benar-benar mendadak memiliki aset bernilai tinggi? Atau ada yang keliru?


*Rumah Warisan dan Motor Tua*


Mengkonfirmasi gambaran kesejahteraan yang tertera pada data pemerintah, Timbul membeberkan kondisi riil harta benda yang ia miliki.


Dikatakan Timbul, rumah yang ia tempati memang sudah berdinding tembok dan berlantaikan keramik. 


Namun, Timbul menegaskan bangunan tersebut adalah rumah warisan orang tua yang secara sah masih atas nama tujuh keluarga bersaudara dan belum dipecah sertifikatnya.


Untuk kendaraan, dia hanya memiliki sepeda motor tua untuk akses transportasi harian dari rumahnya di Kulon Progo menuju kawasan Malioboro, Yogyakarta, tempatnya bekerja mengayuh becak. 


Sementara becak motornya ditinggalkan di kawasan Bantul agar tidak memboroskan bahan bakar dan merusak ban jika harus dibawa pulang-pergi.


*Penghasilan Harian Tak Menentu*


Setiap hari Timbul bertaruh nasib di Malioboro sebagai tukang becak.


Di hari kerja (Senin–Jumat), penumpang sangat sepi hingga ia sering tidak membawa pulang uang. 


Ketika akhir pekan, penghasilan kotornya berkisar antara Rp100.000 hingga Rp300.000, yang masih harus dipotong ongkos BBM dan makan.


"Hasil saya ini tidak bisa dihitung karena tidak menentu," kata dia.


*Respons Pemerintah Daerah*


Meski terimpit beban ekonomi dan menangis melihat sang anak cemas memikirkan biaya kuliah, Timbul menegaskan komitmennya. 


Ia tak ingin sang anak bernasib sama menjadi tukang becak dan bertekad mengusahakan segala cara agar Lutfi tetap bisa berkuliah di UNY.


"Anak saya nangis karena sudah mendaftar dan diterima kuliah," papar dia.


Sementara itu, kabar ketidaksesuaian data desil ini telah sampai ke Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. 


Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko telah menemui Timbul untuk melakukan evaluasi dan validasi data lapangan.


Pemkab Kulon Progo berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) guna memperbaiki serta merevisi klasifikasi desil Timbul dari posisi 9 kembali ke Desil 1 atau 2.


Hal itu diharapkan dapat memulihkan hak Timbul sebagai penerima bansos sekaligus memuluskan jalan sang anak menggapai beasiswa pendidikan tinggi. (*)

Editor : Weny Firmansyah
tukang becak