Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Terungkap! Polisi Temukan Surat Wasiat Dokter Icha, Selidiki Penyebab Kematian dan Dugaan Intimidasi

Elfira Halifa • Selasa, 30 Juni 2026 | 05:00 WIB
dr. Icha. (ADU.ID)
dr. Icha. (ADU.ID)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Misteri kematian dr. Eliza Priscila Utami Pakaenoni atau dr. Icha (28) terus menjadi perhatian publik.

Di tengah proses penyelidikan, polisi mengungkap temuan baru berupa sepucuk surat yang diduga merupakan surat wasiat, bersama sejumlah barang bukti lain yang diamankan dari rumah korban di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Penemuan surat tersebut menambah rangkaian fakta yang sedang didalami penyidik. Meski demikian, kepolisian menegaskan belum menyimpulkan penyebab pasti kematian dokter muda itu maupun mengaitkannya dengan dugaan intimidasi yang sempat dialaminya saat bertugas di rumah sakit.

Kapolres Kupang AKBP Rudy Junus Jacob Ledo mengatakan seluruh tahapan penyelidikan dilakukan sesuai prosedur sejak laporan diterima pada Jumat (26/6/2026).

"Begitu menerima laporan, personel kami langsung menuju lokasi untuk mengamankan TKP, melakukan olah tempat kejadian perkara, mengidentifikasi korban, mengumpulkan barang bukti, serta meminta keterangan awal dari para saksi”

“Semua langkah dilakukan secara profesional untuk memastikan setiap fakta di lapangan dapat terdokumentasi dengan baik," ujar Kapolres sebagaimana dilansir dari Posbelitung.co. Senin (29/6/2026).

Sementara Kasat Reskrim Polres Kupang Iptu Helmi Wildan membenarkan adanya surat yang ditemukan di lokasi kejadian. Surat tersebut kini menjadi salah satu barang bukti yang akan dianalisis bersama barang bukti lainnya.

"Selain barang bukti itu, ada juga barang bukti lainnya berupa sepucuk surat," kata Helmi.

Ia mengatakan penyidik masih memeriksa sejumlah saksi. Namun pemeriksaan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan suasana duka yang masih dirasakan keluarga korban.

Selain surat, polisi mengamankan dua unit telepon seluler, tali nilon, koper berisi dokumen pribadi, pakaian, sandal, topi, dan sejumlah barang lainnya yang ditemukan di lokasi.

Usai olah TKP, jenazah dr. Icha dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang untuk menjalani pemeriksaan luar.

Dari hasil pemeriksaan awal, petugas menemukan bekas jeratan pada leher korban yang diduga berkaitan dengan penyebab kematian. Namun polisi memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada pergelangan tangan maupun tungkai korban.

Pihak keluarga memutuskan tidak memberikan izin autopsi dan telah menandatangani surat penolakan autopsi.

Meski demikian, Helmi menegaskan penyelidikan tetap berjalan.

"Kami tetap melaksanakan penyelidikan secara komprehensif dengan mengumpulkan seluruh keterangan yang diperlukan. Kami mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi dan mempercayakan penanganan perkara ini kepada kepolisian," tegasnya.

Keluarga: Dokter Icha Masih Menanggung Trauma
Paman korban, Fabianus Banase, mengungkapkan keluarga menemukan dua telepon seluler dan sepucuk surat ketika dr. Icha ditemukan meninggal dunia.

Namun isi surat tersebut belum diketahui keluarga karena seluruh barang milik korban telah diamankan penyidik.

Fabianus menduga keponakannya masih memikul tekanan psikologis berat setelah peristiwa dugaan intimidasi yang terjadi saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu.

"Kami datang terlambat. Saat ditemukan ada dua handphone dan satu surat yang diduga merupakan surat wasiat. Semua barang itu sekarang berada di kepolisian," ujarnya.

Dugaan Intimidasi Bermula dari Penanganan Pasien
Sebelum meninggal dunia, dr. Icha menjadi sorotan nasional setelah diduga mengalami intimidasi ketika menangani seorang pasien anak korban gigitan ular di IGD RS Leona Kefamenanu.

Menurut keluarga, seluruh tindakan medis yang dilakukan korban telah sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan arahan dokter spesialis.

Persoalan muncul ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang menurut pertimbangan medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia di rumah sakit.

Paman korban, Victor Manbait, mengatakan dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) kemudian datang ke ruang pelayanan dan mempertanyakan penanganan medis dengan nada tinggi.

Salah seorang di antaranya disebut sempat menunjuk wajah dr. Icha ketika meminta penjelasan.

Menurut Victor, kejadian tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi korban.

"Dokter Icha mengaku masih ketakutan dan mengalami tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas," ungkap Victor.

DPRD TTU Bantah Lakukan Intimidasi
Dua anggota DPRD TTU yang disebut dalam peristiwa tersebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah telah melakukan intimidasi terhadap dr. Icha maupun tenaga kesehatan lainnya.

Therensius mengakui sempat berbicara dengan nada tinggi karena panik melihat kondisi pasien. Namun ia menegaskan tidak memiliki niat mengintimidasi dokter.

Sementara Norbertus mengatakan kedatangan mereka hanya untuk meminta penjelasan mengenai kondisi pasien.

Setelah memperoleh penjelasan dari pihak rumah sakit, keduanya mengaku telah menyampaikan permohonan maaf kepada direktur rumah sakit dan tenaga medis yang bertugas.

Kemenkes Turun Tangan
Kasus ini juga mendapat perhatian Kementerian Kesehatan RI. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, memastikan pemerintah akan melakukan investigasi bersama berbagai pihak terkait dugaan intimidasi terhadap dr. Icha.

"Kami sangat prihatin atas peristiwa ini. Setiap tenaga kesehatan berhak mendapatkan perlindungan, rasa aman, dan penghormatan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Tidak boleh ada intimidasi, tekanan ataupun tindakan yang merendahkan martabat tenaga kesehatan," tegas Aji.

Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan menghormati proses hukum yang sedang berlangsung.

Penyelidikan Masih Berjalan
Hingga kini, Polres Kupang belum menyimpulkan adanya hubungan antara kematian dr. Icha dengan dugaan intimidasi yang sebelumnya mencuat.

Aparat masih mendalami seluruh barang bukti, termasuk surat yang ditemukan di lokasi kejadian, serta memeriksa para saksi untuk mengungkap penyebab pasti kematian dokter muda tersebut.

Kasus ini sekaligus menjadi sorotan terhadap pentingnya perlindungan bagi tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas pelayanan. Publik kini menanti hasil penyelidikan kepolisian dan investigasi Kementerian Kesehatan untuk memastikan seluruh fakta terungkap secara objektif dan transparan. (*)

Editor : Elfira Halifa
#kupang #ntt