Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Saksi Selamat: Klakson KA Argo Bromo Anggrek Terus Meraung dari Jarak Jauh, Menyadari Tanda Bahaya

Weny Firmansyah • Kamis, 30 April 2026 | 10:49 WIB
Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Seorang penumpang KRL yang selamat dari kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur mengungkapkan bahwa klakson KA Argo Bromo Anggrek sudah berbunyi terus-menerus dari jarak jauh sebelum tabrakan terjadi. 

Ia menilai, jika evakuasi penumpang dilakukan lebih cepat saat KRL berhenti lama, korban jiwa kemungkinan bisa diminimalkan.

Seperti dikutip dari Jawapos.com, pria tersebut menyebut KRL yang ditumpanginya sempat tertahan karena adanya insiden lain di jalur. Ia mendengar informasi bahwa kereta belum bisa diberangkatkan karena ada kendaraan yang terseret dan rencananya akan dievakuasi di stasiun tersebut.

Namun, menurutnya, tidak ada pemberitahuan kepada pihak terkait untuk menahan laju kereta jarak jauh (KJJ) yang melintas dari arah Jakarta menuju Jawa.

“Seharusnya dari sini (stasiun) dikasih info supaya kereta yang arah Jawa itu ditahan,” ujarnya dalam video yang diunggah akun Instagram Jabodetabek 24 jam, dikutip Rabu (29/4/2026).

Ia mengaku mulai menyadari bahaya ketika mendengar suara klakson KA Argo Bromo dari kejauhan yang tidak berhenti-berhenti. Saat itu, ia langsung berinisiatif menyelamatkan diri.

“Klaksonnya dari jauh sudah bunyi terus. Pas saya nengok, saya langsung loncat saja. Alhamdulillah masih dikasih selamat,” katanya.

Penumpang tersebut berada di gerbong tiga saat kejadian. Ia menggambarkan benturan terjadi sangat keras hingga membuat penumpang terpental.

“Di gerbong tiga itu semua mental. Kencangnya bukan main, suaranya sudah seperti rudal,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti lamanya KRL berhenti sebelum kejadian. Menurutnya, kondisi itu seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengevakuasi penumpang lebih dulu. “Kalau dari awal penumpang disuruh turun, mungkin banyak yang selamat,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan tidak ingin menyalahkan pihak tertentu dan menganggap kejadian ini sebagai musibah. Namun, ia berharap ke depan koordinasi bisa lebih baik agar kejadian serupa tidak terulang.

“Ini musibah, enggak usah saling menyalahkan. Tapi ke depan harusnya ada komunikasi yang jelas,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kereta yang menabrak adalah KA Argo Bromo Anggrek yang datang dari arah Jakarta. Sementara KRL yang ditumpanginya tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur.

Ia juga mengungkapkan bahwa gerbong paling belakang, khususnya gerbong wanita, mengalami kerusakan paling parah dan sulit dievakuasi.

“Yang paling parah dari gerbong wanita di belakang sampai ke depannya. Itu susah sekali diselamatkan,” tuturnya.

Penumpang tersebut diketahui berangkat dari Stasiun Senen menuju Tambun sepulang kerja. Ia termasuk salah satu korban selamat tanpa perawatan di rumah sakit. (*)

Editor : Weny Firmansyah
#NASIONAL #Ceposonline.com #jawa barat