9 Anak Papua Disiapkan Jadi Role Model Guru Bahasa Inggris 

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 12:18 WIB

Direktur Yayasan Mutiara Hitam Papua, Fred Bundah Dimara saat diwawancarai cenderawasih pos di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah, Selasa, (6/10/2026). (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)

Direktur Yayasan Mutiara Hitam Papua, Fred Bundah Dimara saat diwawancarai cenderawasih pos di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah, Selasa, (6/10/2026). (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)

CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Yayasan Mutiara Hitam Papua telah menyiapkan sembilan anak asli Papua sebagai tenaga pelatih yang akan ditugaskan melatih guru-guru Bahasa Inggris di tiga wilayah di Papua Tengah, yakni Kabupaten Paniai, Mimika dan Nabire.

 

Saat ini, mereka siap ditugaskan sambil menunggu MoU. Direktur Yayasan Mutiara Hitam Papua, Fred Bundah Dimara, mengatakan pihaknya berkomitmen bahwa program ini harus dikembangkan oleh anak Papua dan untuk anak Papua,” ujar Fred saat diwawancarai di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah, Selasa (6/10/2026).

 

Fred menjelaskan, sebelum ditugaskan melatih para guru, sembilan tenaga pelatih tersebut telah mengikuti TOT dengan mendapatkan pembekalan dari tutor berpengalaman dari Bali. Diharapkan siswa lebih banyak diberi kesempatan untuk berbicara, berlatih dan mempraktikkan. 

 

“Bahasa Inggris itu bukan hanya belajar, tetapi lebih kepada skill. Karena skill itu harus banyak praktik dan banyak latihan. Kalau siswa hanya mendengar dan tidak berlatih, kemampuan mereka tidak akan berkembang,” jelasnya.

 

Selain metode komunikatif, para pelatih juga akan membawa pendekatan kontekstual dalam pelatihan guru. Pendekatan ini dinilai penting agar materi Bahasa Inggris yang disusun guru lebih dekat dengan lingkungan, kehidupan sehari-hari dan budaya siswa Papua.

 

“Yang memahami konteks Papua adalah anak-anak Papua sendiri. Pendekatan seperti ini lebih mudah ditangkap dibandingkan kita memaksa mereka memahami sesuatu yang berasal dari Jawa atau Bali,” katanya. “Misalnya kita mengajarkan kata kereta api atau singa, mereka mungkin tidak paham karena tidak pernah melihatnya. Tetapi kalau kita menggunakan sesuatu yang selalu mereka lihat di depan mata, seperti tikus tanah, mereka lebih cepat menangkap karena setiap hari melihatnya,” jelas Fred.

 

Melalui pendekatan tersebut, Yayasan Mutiara Hitam Papua berharap para guru dapat merancang pembelajaran Bahasa Inggris yang lebih komunikatif, menyenangkan dan tetap sesuai dengan konteks budaya Papua.

 

Di sisi lain, sembilan tenaga pelatih asli Papua tersebut juga diharapkan menjadi role model bagi siswa. Beberapa di antara mereka merupakan lulusan perguruan tinggi di luar negeri, sehingga pengalaman pendidikan mereka dapat menjadi sumber motivasi bagi anak-anak Papua yang mengikuti pembelajaran. (*)

Editor : Abdel Gamel Naser
Ceposonline.com NABIRE