CEPOSONLINE.COM, NABIRE — Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Nabire selama satu bulan lebih mulai memberikan dampak nyata bagi mama-mama penjual sayur, buah dan keladi di Pasar Karang. Kekeringan yang melanda kebun menyebabkan banyak tanaman gagal panen, pasokan hasil pertanian menurun, sementara aktivitas jual beli di pasar ikut lesu karena sayuran semakin sulit diperoleh.
Martina Butu, salah satu penjual sayur dan buah di Pasar Karang Nabire, mengatakan musim kemarau membuat sumur, kali, hingga sumber air di kebun mengering. Kondisi tersebut menyebabkan berbagai tanaman pangan yang selama ini menjadi sumber penghasilan masyarakat tidak dapat tumbuh dengan baik.
“Air di kebun sudah kering, sumur juga kering, kali-kali mulai mengering. Akibatnya tanaman di kebun hampir semuanya kering,” ujar Martina saat ditemui di Pasar Karang Nabire, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan tanaman seperti kacang, keladi, petatas, serta berbagai tanaman pangan lainnya mengalami kekeringan sehingga hasil panen menurun drastis.
“Hampir semua tanaman yang biasa kami tanam itu kering. Mama-mama jadi tidak bisa panen seperti biasanya,” katanya.
Berkurangnya hasil panen turut memengaruhi aktivitas perdagangan di Pasar Karang. Pasokan sayuran yang semakin sedikit membuat lapak-lapak tidak lagi seramai biasanya karena pilihan sayur yang dijual terbatas.
“Orang memang masih datang membeli, tetapi karena sayuran tidak ada, pasar jadi sepi. Mama-mama gagal panen, jadi yang dijual juga sedikit,” ungkapnya.
Tak hanya jumlah hasil panen yang berkurang, ukuran buah dan sayuran yang berhasil dipanen pun ikut menyusut. Menurut Martina, melon dan semangka yang biasanya berukuran besar kini tumbuh lebih kecil akibat kurangnya pasokan air. Hal serupa juga terjadi pada ketimun yang dipanen pada musim ini.
“Melon dan semangka biasanya besar-besar, tetapi sekarang karena musim kemarau bentuknya jadi kecil. Begitu juga ketimun dan buah-buahan lainnya. Ini panen pertama, ketimun juga panen kedua, tetapi ukurannya tetap kecil,” tutur mama Martina sambil memegang semangka dan jagung yang sedang dijual olehnya.
Selain menghadapi hasil panen yang menurun, para pedagang juga harus berjualan di bawah terik matahari karena belum memiliki tempat yang memadai.
“Kami jualan juga kena panas. Kalau ada bangunan yang ada atap, kami bisa jualan lebih nyaman dan barang dagangan juga lebih aman,” ujarnya.
Martina berharap pemerintah dapat memberikan perhatian kepada masyarakat yang terdampak musim kemarau, terutama dengan membantu penyediaan air bersih dan memperbaiki fasilitas di Pasar Karang.
“Kalau musim kemarau seperti ini kami sangat butuh air. Kalau bisa pemerintah sediakan tangki air atau membantu distribusi air bersih ke masyarakat. Kami juga berharap ada bangunan beratap di pasar supaya mama-mama bisa berjualan tanpa kepanasan maupun kehujanan,” harapnya.
Senada dengan itu, Mama Mia, salah seorang penjual keladi di Pasar Karang Nabire, mengaku turut merasakan dampak musim kemarau yang berkepanjangan. Menurutnya, hasil panen keladi terus menurun karena tanah semakin kering dan sulit mendapatkan air untuk menyiram tanaman.
Akibatnya, jumlah hasil panen yang dibawa ke pasar tidak sebanyak biasanya sehingga pendapatan para pedagang ikut menurun.
“Kami berharap pemerintah bisa melihat kondisi mama-mama yang bergantung pada hasil kebun. Yang paling kami butuhkan sekarang air bersih, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk mengairi kebun supaya tanaman tidak terus mengering,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah dapat memperhatikan fasilitas di Pasar Karang dengan membangun lapak yang memiliki atap sehingga para pedagang dapat berjualan dengan lebih nyaman dan terlindungi dari terik matahari maupun hujan.
“Bukan hanya hasil panen yang kami harapkan, tetapi juga tempat jualan yang layak. Kalau ada atap, kami bisa berjualan lebih nyaman dan pembeli juga lebih betah datang ke pasar,” pungkasnya. (*)
Editor : Lucky Ireeuw