Pesan Haru Sang Juara English Competition: “Mama, Jaga Kesehatan, Jangan Kerja Terus…” 

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 18:19 WIB
Siswa kelas XII IPA SMA Negeri Meepago Nabire, Melian Obaipa berfoto dengan piagam juara yang diterimanya di ruang Kepala Sekolah SMA Negeri Meepago, Jumat, (24/7/2026).
Siswa kelas XII IPA SMA Negeri Meepago Nabire, Melian Obaipa berfoto dengan piagam juara yang diterimanya di ruang Kepala Sekolah SMA Negeri Meepago, Jumat, (24/7/2026).

CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Prestasi membanggakan berhasil diraih Melian Obaipa. Siswa kelas XII IPA SMA Negeri Meepago Nabire itu sukses meraih Juara I English Competition tingkat SMA dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional Provinsi Papua Tengah yang diselenggarakan melalui kolaborasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah bersama SAPA Foundation.

Namun, di balik piala dan sertifikat yang diterimanya, tersimpan kisah perjuangan panjang seorang anak dari pedalaman Papua yang tumbuh dalam keterbatasan, tetapi tak pernah berhenti mengejar cita-cita.

Saat ditemui Ceposonline.com, di SMA Negeri Meepago Nabire, Jumat (24/7/2026), Melian lebih banyak bercerita tentang perjalanan hidupnya dibandingkan prestasi yang baru saja diraih. Baginya, kemenangan itu bukan hanya miliknya sendiri, melainkan hasil dari doa, kerja keras, dan dukungan banyak orang.

Melian Obaipa berasal dari Kampung Eugai, Distrik Siriwo, Kabupaten Paniai. Kampung di pedalaman Papua itu masih memiliki akses transportasi yang sangat terbatas. Untuk keluar dari kampung, warga harus berjalan kaki selama sekitar dua hari melintasi hutan dan perbukitan hingga mencapai Kilometer 130 di ruas Jalan Trans Nabire–Paniai. Dari titik itulah perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat menuju Kota Nabire.

Perjalanan yang panjang dan melelahkan itu telah menjadi bagian dari kehidupan Melian sejak kecil. Namun, keterbatasan akses tidak pernah memadamkan semangatnya untuk belajar.

Cobaan hidup datang bahkan sebelum ia mengenal bangku sekolah. Ayahnya meninggal dunia saat Melian masih kecil. Sejak itu, sang mama menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai petani di kampung demi membesarkan anak-anaknya.

“Bapa sudah meninggal waktu saya kecil dan belum sekolah. Mama masih ada. Mama saya di kampung sebagai petani, hari-hari kerja di kebun. Kami adik kakak banyak, tapi sebagian sudah meninggal. Sekarang tinggal saya dan dua adik perempuan,” tuturnya.

Perjalanan pendidikan Melian dimulai di SD Bhakti Mandala Nabire. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 3 Nabire. Kini, ia tercatat sebagai siswa kelas XII IPA SMA Negeri Meepago Nabire.

Ketertarikannya terhadap bahasa Inggris tumbuh sejak masih kecil. Ia mengaku mulai termotivasi ketika melihat kakak laki-lakinya sering membawa tamu asing ke rumah.

“Saya ada motivasi untuk belajar bahasa Inggris. Besoknya saya langsung mau ke sekolah karena ingin belajar bahasa Inggris,” kenangnya.

Keinginan belajar itu terus tumbuh. Saat duduk di bangku SMP, Melian sempat mengikuti kursus bahasa Inggris. Namun, karena keterbatasan biaya, ia hanya mampu bertahan sekitar dua minggu sebelum akhirnya berhenti.

“Karena tidak ada biaya saya keluar lagi. Saya pindah kursus lagi. Kadang belajar, kadang tidak. Jadi mungkin tidak terlalu serius belajarnya,” katanya.

Kesempatan besar akhirnya datang ketika Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan SAPA Foundation menghadirkan program pembelajaran bahasa Inggris di SMA Negeri Meepago.

Awalnya, Melian mengaku tidak mengetahui adanya program tersebut. Hingga suatu hari kepala sekolah mengumumkan bahwa guru-guru bahasa Inggris dari SAPA Foundation akan datang memberikan pelatihan kepada para siswa.

Selama kurang lebih dua bulan, Melian bersama teman-temannya mengikuti pembelajaran intensif. Setelah itu dilakukan seleksi dan delapan siswa dipilih untuk mewakili sekolah mengikuti English Competition.

“Kami senang sekali. Sekitar dua bulan kami belajar bersama guru-guru dari SAPA Foundation. Setelah itu kami diseleksi dan dipilih delapan orang dari sekolah untuk ikut lomba,” ujarnya.

Selama menjalani pembinaan, pihak sekolah memberikan dukungan penuh. Melian bahkan diizinkan keluar masuk asrama agar dapat mengikuti seluruh rangkaian pelatihan.

“Saya didukung juga dari sekolah sehingga saya diizinkan dari asrama untuk keluar pada saat pelatihan. Akhirnya saya dapat juara,” katanya.

Melian pun menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah membuka kesempatan baginya untuk berkembang.

“Saya hanya bisa bilang ucapan terima kasih kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah, SAPA Foundation, dan juga dari sekolah, karena hanya karena ada dukungan makanya saya bisa ikut pelatihan,” ungkapnya.

Selain dikenal sebagai siswa berprestasi, Melian juga dipercaya menjadi Ketua Asrama. Amanah itu dijalaninya dengan penuh tanggung jawab.

“Saya sebagai ketua asrama harus bertanggung jawab jadi saya jalankan semua dengan tulus,” ujarnya.

Sebagai Ketua Asrama, Melian membangunkan teman-temannya setiap pagi untuk memulai aktivitas bersama. Hari mereka diawali dengan doa, dilanjutkan membersihkan lingkungan asrama, kemudian bersiap berangkat ke sekolah.

Rutinitasnya berlangsung hampir tanpa jeda. Setiap hari ia mengikuti kegiatan belajar mengajar mulai pukul 07.00 hingga 14.00 WIT. Sepulang sekolah, ia kembali ke asrama untuk belajar mandiri bersama teman-temannya hingga malam hari. Keesokan paginya, rutinitas yang sama kembali dijalani dengan disiplin.

Di tengah padatnya aktivitas sebagai pelajar sekaligus Ketua Asrama, Melian tetap menunjukkan prestasi akademik yang membanggakan. Di mata para guru, ia dikenal sebagai siswa yang tekun, disiplin, dan memiliki kemampuan yang menonjol dalam mata pelajaran bahasa Inggris.

Di sela-sela kesibukannya, Melian juga gemar bermain musik. Ia mampu memainkan keyboard maupun gitar. Sementara itu, cita-cita terbesarnya adalah menjadi seorang guru, khususnya guru bahasa Inggris, agar dapat membagikan ilmu kepada anak-anak Papua dan membuka jalan bagi mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Menjelang akhir wawancara, Melian diminta menyampaikan pesan untuk mamanya yang hingga kini masih berada di Kampung Eugai.

Sejenak ia terdiam. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan berubah menjadi sendu. Dengan suara pelan, ia mulai menyampaikan isi hatinya.

“Saya hanya mau bilang terima kasih kepada Mama yang sudah melahirkan saya,” ucapnya.

Kalimat itu berhenti sejenak. Kerinduannya kepada sang mama yang setiap hari bekerja di kebun tampak begitu terasa.

Dengan mata yang berkaca-kaca, Melian kembali melanjutkan pesannya. “Mama, jaga kesehatan, jangan kerja terus,” katanya.

Tak lama kemudian, ia menutup pesannya dengan sebuah harapan sederhana.

“Mohon doa dan dukungan supaya saya bisa terus berjuang,” tuturnya.

Bagi Melian, gelar Juara I English Competition bukan sekadar sebuah prestasi. Di balik piala yang kini berhasil diraihnya, ada perjalanan panjang seorang anak dari pedalaman Papua yang harus berjalan kaki selama dua hari untuk keluar dari kampung, kehilangan sosok ayah sejak usia dini, menyaksikan mamanya bekerja tanpa lelah di kebun, serta terus belajar di tengah segala keterbatasan.

Kini, Melian ingin terus melangkah mengejar cita-citanya menjadi seorang guru. 


Ia berharap suatu hari nanti dapat membalas setiap tetes keringat dan pengorbanan sang mama, serta membuktikan bahwa anak-anak dari pelosok Papua juga mampu meraih mimpi ketika diberi kesempatan untuk belajar. 

“ Sa cuma harap, sa pu mama pu keringat dan berkat-berkat dari semua orang yang bantu saya ini bisa saya balas dengan keberhasilan dan kesuksesan,” tutup Obaipa. (*)

Editor : Weny Firmansyah
Papua Tengah Ceposonline.com NABIRE