Tak Kunjung Hilang, Kabut Asap Masih Pengaruhi Jarak Pandang di Mimika 

Wahyu Welerubun • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 11:27 WIB
Salah satu wilayah di SP 3 Timika yang terpantau masih dikepung kabut asap,Senin (5/10/2026). (CEPOSONLINE.COM/MOH. WAHYU WELERUBUN)
Salah satu wilayah di SP 3 Timika yang terpantau masih dikepung kabut asap,Senin (5/10/2026). (CEPOSONLINE.COM/MOH. WAHYU WELERUBUN)

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menyelimuti Kabupaten Mimika, Papua Tengah, dan menekan jarak pandang hingga berada di kisaran 800 sampai 1.500 meter pada Senin (5/10/2026). 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Mozes Kilangin Mimika mengonfirmasi bahwa pekatnya asap di wilayah tersebut dipicu oleh sebaran titik panas di Papua Selatan yang terbawa oleh tiupan angin dari arah tenggara dan timur Papua, atau dari daratan Australia.

Kondisi visibilitas terpantau memburuk secara signifikan pada dini hari akibat perpaduan antara asap kebakaran dan kabut alami dari wilayah pegunungan. 

Prakirawan BMKG Mimika, Muhammad An Nafi, menerangkan fenomena ini saat ditemui di kantornya pada Senin (5/10/2026).

"Kita lihat beberapa hari terakhir ini jarak pandang benar-benar pekat, kalau dilihat dari alat (deteksi) visibilitas (jarak pandang) itu hanya 800 tapi ini karena hujan, normalnya segitu, tapi kalau pagi tadi sewaktu tidak ada hujan itu 1000 sampai 1500 meter," jelas Nafi.

Penyebaran asap ke wilayah Mimika dipengaruhi langsung oleh dinamika cuaca dan pergerakan angin regional. Nafi menjelaskan mekanisme pergerakan asap yang mengepung wilayah tersebut.

"Akhir-akhir ini memang banyak lagi titik panas di Papua Selatan ditambah angin yang bertiup dari tenggara dan timur (Papua), otomatis penyebaran asap mempengaruhi Mimika. Karena asap dari Papua Selatan itu akhirnya visibilitas di Mimika rendah," terangnya.

Penurunan jarak pandang paling ekstrem terjadi menjelang pagi hari, di mana percampuran antara kabut pegunungan di sisi utara dan asap karhutla membuat jarak pandang merosot tajam. Kondisi ini bahkan sempat mengganggu visibilitas di sekitar kawasan bandara.

"Jam 02.00 WIT sampai 03.00 WIT itu pekat sekali, jarak pandang bisa tidak sampai 300 meter, bahkan bandara itu sampai tidak terlihat, karena ada campuran kabut dan asap, tapi kalau pagi, siang, sore sampai malam, itu hanya karena asap," ujarnya.

Berdasarkan data pemantauan satelit BMKG per Minggu (04/10/2026), ribuan titik panas (hotspot) terdeteksi meluas di Provinsi Papua Selatan. 

Wilayah tersebut mencatatkan 159 titik panas dengan tingkat kepercayaan rendah, 2.089 titik dengan tingkat kepercayaan sedang, dan 111 titik berada pada kategori tingkat kepercayaan tinggi.

"Khusus Merauke titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terpantau sebanyak 97," tuturnya.

Kategori tingkat kepercayaan titik panas tersebut mencerminkan probabilitas terjadinya kebakaran di lapangan. 

Kategori rendah umumnya mengindikasikan anomali suhu kecil akibat pantulan panas atau awan tipis, sedangkan kategori sedang memerlukan verifikasi lanjutan. 

Sementara itu, kategori tinggi mengindikasikan anomali suhu yang sangat kuat dengan probabilitas kebakaran hutan atau lahan yang sangat besar. 

BMKG menekankan perbedaan antara titik panas (hotspot) yang baru berupa indikasi peningkatan suhu permukaan lewat pemantauan satelit, dengan titik api (firespot) yang telah terverifikasi sebagai lokasi kebakaran aktif melalui patroli darat atau pengamatan udara. (*)

Editor : Agung Trihandono
Papua Tengah mimika karhutla