Kabut Asap Memicu Lonjakan Kasus ISPA di Timika

Wahyu Welerubun • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 11:52 WIB
Ilustrasi Karhutla. (AI)
Ilustrasi Karhutla. (AI)

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Kabut asap yang menyelimuti wilayah Timika sejak pertengahan September 2026 berdampak buruk pada kesehatan masyarakat. 

Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat memuncak di Kabupaten Mimika, seiring menurunnya kualitas udara akibat paparan asap dan perubahan cuaca ekstrim.

Puskesmas Timika mencatat tren kenaikan penderita gangguan pernapasan, seperti batuk dan pilek, sudah tampak sejak Agustus dan kian memburuk pada pertengahan September.

"Memang kasus pernapasan atau ISPA meningkat cukup signifikan karena kendala asap ini," ujar Kepala Puskesmas Timika, dr. Moses Untung, saat ditemui di Timika, Rabu (30/9/2026).

Pihak puskesmas kini tengah merekapitulasi data pasti kenaikan pasien untuk membandingkan grafik riwayat penyakit periode Agustus hingga Oktober. 

Menurut Moses, pelaporan data ISPA dilakukan berkala per tiga bulan untuk memantau tren epidemiologi di wilayah kerja mereka.

Terkait keluhan warga mengenai gejala yang mirip COVID-19—seperti penurunan daya penciuman, hilangnya indra pengecap, nyeri menelan, hingga badan meriang—Moses menegaskan kondisi tersebut wajar dalam fase endemi. 

Virus SARS-CoV-2 saat ini bersirkulasi menyerupai flu biasa (influenza-like illness) pada masyarakat yang mayoritas telah memiliki imunitas dari vaksinasi.

"Sifatnya sudah endemi. Kebanyakan orang sudah divaksinasi, sehingga gejalanya kini menyerupai influenza pada umumnya. Penanganannya fokus pada peningkatan sistem imunitas tubuh," kata Moses.

*Kasus Menembus 63 Ribu*
Ancaman ISPA di Kabupaten Mimika memang tergolong tinggi secara historis. Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika mencatat, hingga pekan ke-35 tahun 2026, jumlah temuan kasus ISPA telah mencapai 63.856 kasus. 

Angka ini meningkat dibanding periode yang sama pada 2025 yang mencatatkan 61.758 kasus.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Mimika, Kamaludin, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca kemarau yang berdebu serta paparan asap saat ini mempertinggi risiko gangguan pernapasan, khususnya bagi penderita komorbid seperti asma.

"Dari tahun ke tahun memang masih tinggi ISPA-nya. Waktu kemarin kemarau kan banyak debu. Untuk pernapasan begini, misalnya ada riwayat asma, kalau dengan asap begini biasanya keluhannya akan lebih berat, sampai bisa sesak," jelas Kamaludin.

Berdasarkan data pantauan dari laman resmi AccuWeather, indeks kualitas udara (AQI) di Timika berada pada angka 108. 

Angka tersebut masuk dalam kategori tidak sehat, terutama bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit respiratorik.

Menyikapi kondisi udara yang memburuk, Dinkes Mimika beserta Puskesmas Timika mengimbau warga untuk memperketat Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). 

Masyarakat diminta membatasi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak, mengenakan masker saat bepergian, menjaga kecukupan hidrasi, mencuci tangan dan kaki usai beraktivitas, serta menjaga pola istirahat.

"Kalau lagi kemarau begini, banyak debu, kemudian kebetulan sekarang ada asap, masker juga digunakan untuk proteksi. Sama kalau ada keluhan, bisa ke fasilitas kesehatan untuk bisa mendapatkan pertolongan," pungkas Kamaludin.

(*)

Editor : Lucky Ireeuw
asap mimika karhutla