CEPOSONLINE.COM, MIMIKA – Tekanan terhadap ketahanan energi rumah tangga di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mencapai puncaknya pada Senin (6/4/2026) pagi.
Keterbatasan stok gas elpiji 12 kg memaksa ratusan warga terjebak dalam "perburuan" di satu-satunya agen resmi yang masih memiliki sisa pasokan, memicu antrean panjang yang mengular hingga ke bahu jalan.
Pemandangan dramatis terekam di depan PT Mitra Indimatam Nusantara, Jalan Yos Sudarso, Distrik Wania.
Foto-foto amatir yang viral di media sosial memperlihatkan deretan tabung biru yang berbaris kaku sejak fajar, mencerminkan kecemasan publik akan kelangkaan total.
Meski ketegangan sempat memuncak di pagi hari, situasi dilaporkan mulai melandai menjelang siang seiring intervensi pihak otoritas.
Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Rayon II Papua Tengah, Junaedi Kala, turun langsung ke lokasi untuk meredam spekulasi kekosongan stok. Ia mengakui adanya ketimpangan distribusi akibat habisnya cadangan di agen-agen lain.
“Stok kita di Timika tetap tersedia. Namun, saat ini memang hanya ada di satu agen, sementara dua agen lainnya sudah kehabisan stok,” ujar Juna saat ditemui wartawan Senin siang.
Pertamina kini berpacu dengan waktu. Logistik tambahan tengah diupayakan menembus jalur laut dari Surabaya dan Makassar untuk menyambung napas kebutuhan energi di Mimika.
Pertamina pun memastikan suplai berikutnya menggunakan kapal tanker akan tiba sekitar tanggal 7 dan 13 April 2026 berdasarkan estimasi perjalanan.
Data internal Pertamina menunjukkan sisa napas distribusi saat ini hanya bertumpu pada 2.000 tabung ukuran 5,5 kg dan sekitar 1.000 tabung ukuran 12 kg—jumlah yang diprediksi hanya cukup untuk bertahan selama lima hingga enam hari ke depan.
Terkait papan pengumuman di lokasi yang menyatakan stok habis, Juna menegaskan itu adalah langkah taktis untuk mencegah panic buying.
Pengaturan tersebut guna meredam kepanikan serta mengatur pengambilan harian oleh masyarakat. Pertamina membatasi penjualan satu rumah tangga satu tabung agar tidak terjadi kehabisan stok total di Timika sebelum pasukan baru tiba.
Sementara itu, Pemilik PT Mitra Indimatam Nusantara, H. Tajrimin. Ia menyebut hambatan utama murni terletak pada rantai pasok dari Sulawesi Selatan.
Ia menegaskan bahwa tak ada kekosongan total, saat ini pihaknya masih menunggu suplai dari Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
“Di sana kami memiliki sekitar 6.000 tabung, dan 2.000 di antaranya sudah terisi,” kata Tajrimin.
“Kami berharap 2.000 tabung itu bisa segera dikirimkan seluruhnya ke Mimika agar tidak ada lagi kelangkaan,” imbuhnya.
Namun, Tajrimin memberikan peringatan keras bahwa ketersediaan varian paling populer, ukuran 12 kg, berada di ambang batas terakhir.
Ia menegaskan, jika sisa stok hari ini ludes, warga dipastikan harus beralih ke varian lain hingga kapal tanker bersandar.(*)
Editor : Agung Trihandono