CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, menegaskan bahwa kesetiaan kepada Tuhan menjadi kekuatan utama bagi seorang imam dalam menjalani panggilan dan pelayanannya.
Sebab, perjalanan imamat tidak pernah lepas dari berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitar.
Pesan tersebut disampaikan Mgr. Petrus Canisius Mandagi dalam perayaan 25 tahun imamat RD. Donatus Wea S. Turu, di Gedung Archelaus, Paroki Santo Yoseph Bampel, Kamis (29/1/2026) sore.
Dalam perayaan tersebut, Pastor Don-panggilan akrabnya, mengangkat tema “Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku”, yang diambil dari Kitab Yesaya.
Menurut Mgr. Mandagi, tema tersebut mengandung makna mendalam tentang penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidup seorang imam. Keyakinan akan penyertaan Tuhan harus menjadi pegangan ketika menghadapi berbagai persoalan dalam menjalankan tugas pelayanan.
Dalam refleksinya, Mgr. Mandagi mengajak umat untuk merenungkan kembali pertanyaan mendasar mengenai kehidupan imamat, yakni siapa sebenarnya seorang imam yang sejati.
Ia menyinggung kenyataan adanya dua imam yang diberhentikan oleh Uskup Agung Ende. Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi bahan refleksi mengenai pentingnya menjaga kesetiaan terhadap panggilan imamat.
Mgr. Mandagi kemudian mengutip pemikiran Paus Fransiskus mengenai empat pilar utama kehidupan seorang imam. Pilar-pilar tersebut menjadi penopang penting dalam menjalani panggilan imamat. Apabila salah satunya runtuh, kehidupan imamat dapat ikut terguncang.
Salah satu pilar yang ditekankan adalah kedekatan seorang imam dengan Allah.
Menurut Mgr. Mandagi, kedekatan dengan Tuhan tidak cukup hanya diungkapkan melalui kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui doa dan perayaan Ekaristi.
Ia mengaku menyaksikan sendiri kehidupan rohani Pastor Don selama menjalankan panggilan imamatnya, termasuk ketika berada di rumah keuskupan. Pastor Don dinilainya sebagai pribadi yang tekun berdoa dan setia merayakan Ekaristi setiap hari.
Mgr. Mandagi juga mengingatkan ajaran Paus Benediktus XVI mengenai tiga kekuatan utama seorang imam, yakni doa, Ekaristi, dan Kitab Suci.
Ketiga hal tersebut menjadi fondasi bagi seorang imam untuk menjaga relasi dengan Tuhan sekaligus memperkuat dirinya dalam menjalankan tugas pelayanan kepada umat.
“Doa, Ekaristi dan Kitab Suci,” demikian penekanan Mgr. Mandagi ketika menjelaskan kekuatan yang perlu terus dipelihara dalam kehidupan seorang imam.
Ia menilai, perjalanan 25 tahun imamat Pastor Don tentu diwarnai berbagai tantangan. Tantangan itu tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga dari dalam diri sendiri.
Seorang imam, jelasnya, tetaplah manusia yang harus berjuang menghadapi kelemahan dan berbagai godaan, termasuk keinginan untuk menyimpan dendam, berkata tidak jujur, serta pergulatan dengan berbagai nafsu manusiawi.
Karena itu, kesetiaan terhadap panggilan membutuhkan perjuangan terus-menerus.
Seorang imam harus mampu mengendalikan diri dan tetap berpegang pada nilai-nilai yang diajarkan Tuhan.
Selain tantangan pribadi, terdapat pula tantangan dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab pelayanan. Mgr. Mandagi mencontohkan tugas Pastor Don sebagai rektor STK yang tentu tidak mudah dan membutuhkan komitmen serta ketekunan.
Dalam menjalankan pelayanan, seorang imam juga dapat menghadapi kritik, pembicaraan dari orang lain, hingga berbagai bentuk gosip. Bahkan, seorang uskup pun tidak luput dari situasi serupa.
Namun, menurut Mgr. Mandagi, berbagai tantangan tersebut tidak boleh membuat seorang imam kehilangan arah atau menyerah dalam menjalankan panggilannya.
Ia menilai, moto imamat Pastor Don, “Aku telah
melukiskan engkau di telapak tangan-Ku”, menjadi pengingat bahwa Tuhan senantiasa menyertai perjalanan hidupnya.
Keyakinan tersebut diharapkan membuat Pastor Don tetap teguh, berani menghadapi berbagai persoalan, serta setia menjalankan pelayanan kepada Tuhan dan umat.
Perayaan 25 tahun imamat ini sekaligus menjadi momentum untuk merefleksikan kembali makna kesetiaan, kedekatan dengan Tuhan, dan komitmen seorang imam dalam menjalani panggilan hidupnya.
Mgr. Mandagi berharap, semangat doa, kesetiaan merayakan Ekaristi, dan ketekunan mendalami Kitab Suci terus menjadi kekuatan bagi Pastor Don dalam melanjutkan perjalanan imamatnya.
Dengan berpegang teguh pada panggilan Tuhan, seorang imam diharapkan mampu melewati berbagai tantangan dengan sikap yang teguh, tidak takut, dan tidak menyerah.
Perayaan 25 Tahun Imamat RD Donatus Wea tersebut juga dihadiri Wakil Gubernur Papua Selatan Paskalis Imadawa, Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze berlangsung penuh khidmat dan kekeluargaan. (*)
Editor : Weny Firmansyah