Hotspot Papua Selatan Meningkat, Asap Mulai Ganggu Penerbangan

Yulius Sulo • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 12:21 WIB
Yunita




(CEPOSONLINE.COM/SULO)
Yunita (CEPOSONLINE.COM/SULO) 

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Sebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua Selatan semakin meluas. Berdasarkan pantauan dalam beberapa hari terakhir, asap dari Papua Selatan disebut telah terbawa hingga lintas provinsi. Sebaran asap tersebut dilaporkan telah mencapai wilayah Papua Tengah, Papua Barat, Papua Barat Daya hingga Provinsi Maluku.

 

Kondisi ini juga mulai berdampak terhadap aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah, salah satunya di Bandara Ewer, Kabupaten Asmat. Jarak pandang (visibility) di wilayah bandara tersebut dilaporkan berada pada kisaran 1 hingga 5 kilometer sehingga dapat menyulitkan penerbangan, khususnya saat proses take off maupun landing.

 

Berdasarkan pantauan, kondisi asap di Ewer cenderung terjadi pada siang hingga sore hari. “Dari update-an atau pantauan kami hari kemarin, asap dari Papua Selatan ini sudah tertransfer ke wilayah Papua Tengah seperti Timika, kemudian sampai ke Papua Barat, Papua Barat Daya, sampai ke Provinsi Maluku,” ungkap Prakirawan BMKG Merauke Yunita, ditemui Selasa (6/10/2026) 

 

Ia mengatakan, selain sebaran asap yang semakin luas, sejumlah wilayah juga mulai mengalami dampak terhadap kondisi cuaca dan jarak pandang. “Di beberapa tempat seperti di Asmat atau di Bandara Ewer ini sudah terganggu dari cuacanya sendiri. Dipantau di Ewer, visibility mencapai satu hingga lima kilometer, di mana ini menyulitkan bagi penerbang untuk melakukan take off dan landing di bandara tersebut, terutama untuk kondisi asap ini dipantau terjadi pada siang hingga sore hari,” jelasnya.

 

Sementara itu, berdasarkan pantauan titik panas atau hotspot, keberadaan hotspot saat ini tersebar hampir merata di wilayah Provinsi Papua Selatan. Namun, jumlah hotspot paling banyak terpantau berada di sekitar Kabupaten Merauke, Kabupaten Mappi dan Kabupaten Boven Digoel.

 

Tidak hanya berasal dari wilayah Papua Selatan, fenomena kabut asap juga dipengaruhi oleh sebaran asap lintas batas (transboundary haze) dari Papua Nugini. “Beberapa hari terakhir juga terpantau adanya transboundary haze atau lintas batas sebaran asap dari Papua Nugini yang juga berkontribusi memberikan fenomena kabut asap di wilayah kita, di wilayah Provinsi Papua Selatan,” ujarnya. 

 

“Dari beberapa hari terakhir, tiga hari terakhir ini menunjukkan peningkatan. Peningkatan titik hotspot di wilayah Papua Selatan,” katanya. Peningkatan hotspot tersebut tidak terlepas dari kondisi kekeringan yang terjadi di wilayah Papua Selatan, khususnya Kabupaten Merauke. Kondisi lahan yang semakin kering, termasuk kawasan rawa, membuat potensi terjadinya kebakaran semakin besar. (*)

Editor : Abdel Gamel Naser
Ceposonline.com karhutla