Pelayanan UGD RSUD Boven Digoel Dikembalikan ke Pemda, 7 Dokter Disebut Sudah Kelelahan

Yulius Sulo • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 14:07 WIB
Spanduk pengumuman yang dipasang di depan RSUD Boven Digoel.(CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)
Spanduk pengumuman yang dipasang di depan RSUD Boven Digoel.(CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)  

CEPOSONLINE.COM, BOVEN DIGOEL-Pelayanan Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Boven Digoel mengalami perubahan mulai Kamis (1/10/2026).

Hal tersebut disampaikan manajemen RSUD Boven Digoel sebagaimana  sebuah pemberitahuan yang ditujukan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Boven Digoel di RSUD Boven Digoel. 

Disebutkan, RSUD Boven Digoel saat ini hanya memiliki tujuh orang dokter umum yang harus memberikan pelayanan untuk satu rumah sakit rujukan selama 24 jam.

“Kepada seluruh masyarakat Boven Digoel, dengan berat hati kami sampaikan, saat ini RSUD Boven Digoel hanya dilayani oleh tujuh orang dokter umum untuk melayani satu rumah sakit rujukan selama 24 jam,” demikian isi pemberitahuan tersebut.

Keterbatasan tenaga dokter dan kondisi fisik tenaga medis yang disebut sudah sangat kelelahan menjadi alasan dilakukannya perubahan pelayanan.

Mulai Kamis, 1 Oktober 2026, pelayanan UGD RSUD Boven Digoel dinyatakan dikembalikan kepada Pemerintah Kabupaten Boven Digoel.

“Kami memohon maaf sebesar-besarnya. Keputusan ini kami ambil demi keselamatan pasien dan juga keselamatan kami sebagai tenaga medis,” demikian keterangan lanjutan dalam pemberitahuan tersebut.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Selatan dr. Benedicta Herlina Rahangiar, dihubungi media ini  mengaku belum berhasil menghubungi Direktur RSUD Boven Digoel maupun Kepala Dinas Kabupaten Boven Digoel yang sementara dalam perjalanan dari Merauke ke Boven Digoel. 

Namun  Herlina Rahangiar memahami kondisi yang dialami  oleh para dokter tersebut, yang menurutnya  dengan tujuh dokter yang ada untuk melayani 1 rumah sakit, maka mereka akan kewalahan. 

‘’Kalau dengan tujuh dokter umum untuk melayani  satu rumah sakit  itu sangat berat.  Tentu, secara fisik para dokter ini akan kelelahan. Bukan resign tapi kemungkinan mogok kerja saja,” ujarnya.

Karena keterbatasan dokter tersebut ungkap Herlina Rahangiar, maka bersama dengan Kepala Dinas Kesehatan Boven Digoel, pihaknya  menghadap Menteri Kesehatan untuk dibantu dengan dokter umum. 

‘’Untuk mencari dan mendapatkan dokter itu tidak mudah. Apalagi di tempat kerja yang tergolong sulit,’’ pungkasnya. (*)

Editor : Elfira Halifa
rumah sakit ugd Ceposonline.com boven digoel