150 Anak Aibon dan Putus Sekolah di Merauke Dibina di Rumah Singgah 

Yulius Sulo • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 13:41 WIB
Wabub, Fauzun berdiri di tengah seratusan anak anak saat dikumpulkan di rumah singgah untuk mendapatkan binaan beberapa waktu lalu

Foto: Istimewa
Wabub, Fauzun berdiri di tengah seratusan anak anak saat dikumpulkan di rumah singgah untuk mendapatkan binaan beberapa waktu lalu Foto: Istimewa

 
CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Sebanyak 150 an anak aibon dan putus sekolah dilatih di rumah singgah Merauke setiap Senin dan Jumat. 

Wakil Bupati Merauke Fauzun Nihayah  sekaligus pengelola rumah singgah tersebut mengatakan, kegiatan pembinaan tersebut tetap dilaksanakan secara konsisten setiap pekan. 

Untuk kegiatan setiap Senin, materi yang diberikan lebih diarahkan pada pembentukan mental dan karakter anak. Pembelajaran meliputi pendidikan agama dan akhlak.

Sementara setiap Jumat  pembelajaran membaca, menulis dan berhitung (calistung).

Dari awal program pembinaan tersebut berjalan, jumlah anak yang telah terdata mencapai sekitar 150 anak. Namun, jumlah anak yang dapat mengikuti pembelajaran setiap kali kegiatan berlangsung biasanya sekitar 50 anak.

Hal itu disebabkan anak-anak tersebut tidak selalu berada di satu lokasi. 

“Dari awal kita kurang lebih 150-an anak. Cuma memang ada kendala karena anak-anak ini tidak setiap waktu di satu tempat. Jadi biasa yang kita ajar sekitar 50. Tapi kalau serius mau kondisikan betul, sejak pagi cari titik-titiknya, bisa sampai 100,” jelasnya.

Pengelola juga melibatkan orang tua anak. Orang tua disebut telah memberikan kepercayaan dan mengizinkan anak-anak mereka untuk mendapatkan pendampingan.

“Kalau ngomong para orang tua, mereka sudah mengikhlaskan untuk kami bina,” ujarnya.

“Orang tua kita tanya, mereka sampaikan sejak malam anak tidak pulang, biasanya anak tinggal di mana. Mereka juga kasih tahu. Jadi kami jemput satu per satu,” katanya.

Wabup Fauzun Nihayah menjelaskan latar belakang anak-anak yang dibina juga beragam. Sebagian di antaranya merupakan anak yang putus sekolah, sementara lainnya menghadapi persoalan lingkungan dan telah terpapar minuman keras sejak usia dini maupun lem aibon

Karena itu, pembinaan tidak hanya difokuskan pada kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, mental dan perilaku anak.

Selain mendapatkan pembelajaran, anak-anak yang mengikuti kegiatan setiap Senin dan Jumat juga mendapatkan makanan.

“Setiap Senin dan Jumat kita juga kasih makan mereka,” imbuhnya. (*)

Editor : Abdel Gamel Naser
Merauke Ceposonline.com