Tahun Ajaran Baru, Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke Belum Terima Siswa Baru dengan Alasan Ini 

Yulius Sulo • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 13:11 WIB
Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke yang ada di SMKN 2 Merauke, Jalan Kamizaun Merauke  

(CEPOSONLINE.COM/SULO)
Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke yang ada di SMKN 2 Merauke, Jalan Kamizaun Merauke   (CEPOSONLINE.COM/SULO) 

 

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 di Kabupaten Merauke saat ini belum menerima siswa baru untuk tahun pelajaran berjalan. 

 

Penambahan jumlah siswa hanya dilakukan untuk menggantikan peserta didik yang mengundurkan diri, sehingga jumlah siswa yang ada saat ini mencapai 82 orang.

 

 

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke Budi Sutomo menjelaskan, sekolah tersebut saat ini menampung siswa mulai dari kelas II SD hingga kelas III SMP. Sementara untuk kelas I SD belum diisi karena belum ada penerimaan peserta didik baru.

 

“Kemarin kita tidak ada penerimaan siswa baru. Kami hanya melakukan penggantian untuk anak-anak yang mengundurkan diri,” Budi Sutomo.

 

 

Menurutnya, pada awal program jumlah siswa yang diterima 100 orang. Jumlah tersebut kemudian menyusut menjadi 76 siswa karena sebagian keluar.

 

 Setelah dilakukan penggantian terhadap siswa yang mengundurkan diri, jumlah peserta didik saat ini menjadi 82 orang.

 

Dikatakan, kebijakan tidak menerima siswa baru tersebut berkaitan dengan kondisi gedung sekolah yang hingga kini sifatnya masih meminjam gedung sekolah SMKN 2 Merauke. 

 

 Namun penerimaan siswa baru akan kembali dilakukan setelah gedung permanen Sekolah Rakyat selesai dibangun.

 

Budi Sutomo menjelaskan, jika pembangunan sekolah rakyat terintegrasi 77 Merauke yang permanen terealisasi, kapasitas Sekolah Rakyat Merauke akan jauh lebih besar.

 

 Berdasarkan master plan yang telah disiapkan, kompleks sekolah tersebut dirancang mampu menampung hingga 2.000 siswa, mulai jenjang SD, SMP hingga SMA.

 

“Kalau sekolah permanennya jadi, kuota untuk asrama itu bisa menampung 2.000 anak. SD, SMP, SMA satu atap,” ujarnya.

 

 

Kompleks tersebut dirancang di atas kawasan sekitar Sembilan dengan pembangunan gedung sekolah dan fasilitas pendukung yang telah dituangkan dalam master plan.

 

 

Persoalan lahan disebut sudah tidak menjadi kendala utama. Namun, terdapat ketentuan terkait orientasi bangunan karena proyek tersebut merupakan pembangunan pemerintah pusat.

 

 

Bangunan sekolah diwajibkan menghadap ke jalan provinsi. Karena itu, rancangan bangunan mengalami penyesuaian dari rencana sebelumnya yang mengarah ke kawasan di depan Wisma Atlet.

 

Budi menjelaskan, pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat Merauke ditargetkan mulai ditandai dengan peletakan batu pertama yang rencananyakan dilaksanakan pada Oktober 2026.

 

 

Proses administrasi dan persiapan pembangunan telah berjalan. Pemerintah Provinsi Papua Selatan juga telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Sosial untuk mempercepat realisasi pembangunan tersebut.

 

 

Sebelumnya, kata dia, Sekda Kabupaten Merauke bersama Asisten II yang juga terlibat dalam tim percepatan pembangunan telah menghadap Menteri Sosial. Dalam pertemuan tersebut, berbagai dokumen dan kesiapan pembangunan dipresentasikan.

 

“Kalau tidak salah semua proses sudah dilalui. Kemarin Pak Sekda dan Bu Asisten II sebagai ketua panitia percepatan pembangunan juga sudah menghadap Pak Menteri Sosial. Semua dokumen dibawa dan dipresentasikan,” tambahnya. (*)

Editor : Agung Trihandono
Merauke Ceposonline.com PAPUA SELATAN