Kemarau Panjang Picu Kenaikan Harga Cabai dan Sayuran di Merauke

Yulius Sulo • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 10:23 WIB
Salah satu pedagang cabai rawit di Pasar Wamanggu Merauke, Jumat (18/9/2026) 




(CEPOSONLINE.COM/SULO)
Salah satu pedagang cabai rawit di Pasar Wamanggu Merauke, Jumat (18/9/2026)  (CEPOSONLINE.COM/SULO) 

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir tanpa hujan mulai berdampak terhadap ketersediaan dan harga cabai serta sejumlah jenis sayuran di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

 

Harga cabai, khususnya cabai rawit, di Pasar Wamanggu Merauke pada Jumat (18/9/2026) berada di kisaran Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram. Harga tersebut mengalami kenaikan dalam dua hari terakhir, setelah sebelumnya berada di kisaran Rp110.000 hingga Rp120.000 per kilogram.

 

Salah seorang pedagang di Pasar Wamanggu, Sri, mengatakan kenaikan harga cabai rawit dipengaruhi terbatasnya stok. Pasokan cabai yang dijual pedagang saat ini berasal dari sejumlah lokasi eks transmigrasi dan sebagian lainnya didatangkan dari Mutung.

 

“Kenaikan harga cabai rawit dipicu stok yang terbatas. Cabai yang kita jual sekarang selain dari lokasi eks transmigrasi juga disuplai dari Mutung,” kata Sri saat ditemui di Pasar Wamanggu, Jumat (18/9/2026).

 

Menurutnya, harga cabai rawit sepanjang 2026 cenderung tetap tinggi dan belum pernah turun di bawah Rp100.000 per kilogram. Kondisi tersebut terjadi karena ketersediaan cabai yang terbatas.

 

“Cabai yang kita jual semuanya masih lokal. Tidak ada dari luar Merauke,” jelasnya.

 

Selain cabai, harga sejumlah sayuran juga mengalami tekanan akibat kondisi kemarau. Salah satunya kangkung cabut yang saat ini dijual sekitar Rp30.000 per ikat besar, dengan isi 10 ikat kecil.

 

Untuk penjualan eceran, kangkung cabut dipasarkan sekitar Rp10.000 untuk tiga ikat kecil. Sementara sayur sawi dijual dengan harga Rp6.000 hingga Rp8.000 per ikat.

 

Pedagang sayuran lainnya, Wahyuni, mengatakan kondisi kemarau membuat petani kesulitan mendapatkan air untuk menyiram tanaman. Akibatnya, pertumbuhan sayuran menjadi kurang optimal dan pasokan ke pasar ikut terbatas.

 

“Karena kemarau, sayuran susah tumbuh karena petani sulit mendapatkan air untuk menyiram,” kata Wahyuni. (*)

Editor : Weny Firmansyah
Merauke Ceposonline.com