CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Selatan dr. Benedicta Herlina Rahagiar mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Musim kemarau yang disertai kekeringan menyebabkan sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan polusi udara yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Kadisnkes Benedicta Rahagiar mengatakan, masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak kebakaran sebaiknya tidak terlalu dekat dengan lokasi kebakaran. Warga juga dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
“Kalau bisa masyarakat melindungi diri dengan menggunakan masker. Apabila merasa sesak atau mengalami gangguan pernapasan, segera menghubungi fasilitas kesehatan terdekat atau memeriksakan diri,” kata Benedicta Rahagiar ditemui di ruang kerjanya di Pusat pemerintahan Provinsi Papua Selatan di Salor, Kurik-Merauke, Selasa (1/9/2026).
Ia menyebutkan, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan seperti asma menjadi kelompok yang lebih sensitif terhadap paparan asap.
Dinas Kesehatan juga terus melakukan pemantauan terhadap kemungkinan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebagai dampak perubahan cuaca dan polusi udara akibat karhutla.
“Dalam beberapa minggu terakhir, bahkan dalam tiga bulan terakhir, kasus infeksi saluran pernapasan memang ada peningkatan, tetapi belum terlalu signifikan,” katanya.
Selain ancaman asap, masyarakat juga diminta mewaspadai risiko dehidrasi akibat cuaca panas dan keterbatasan air bersih. Masyarakat diimbau tetap mencukupi kebutuhan cairan tubuh meskipun dalam kondisi kemarau.
“Dalam situasi kekeringan ini masyarakat harus tetap minum air yang cukup. Jangan sampai kita mengalami dehidrasi,” jelasnya.
Menurutnya, dehidrasi dapat menyebabkan suhu tubuh meningkat dan memicu gangguan kesehatan lainnya. Karena itu, masyarakat diminta tidak menunggu sampai mengalami kondisi lemas atau hampir pingsan baru mencari air minum.
Keterbatasan air bersih yang terjadi di sejumlah wilayah juga berpotensi memengaruhi kebersihan diri dan memicu gangguan kesehatan kulit.
Dinas Kesehatan mengakui terdapat peningkatan kasus terkait masalah kulit, namun sejauh ini belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Meski demikian, dia mengingatkan masyarakat agar air yang digunakan untuk konsumsi diolah dengan baik, terutama dengan cara dimasak hingga benar-benar matang, guna mencegah masuknya kuman penyebab penyakit.
“Air yang diambil untuk dikonsumsi harus dimasak dengan baik sehingga terhindar dari kuman-kuman lainnya,” tambahnya. (*)
Editor : Lucky Ireeuw