Hotspot Papua Selatan Turun Menjadi 1.225 Titik, 38 Masuk Kategori Tinggi

Yulius Sulo • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 11:20 WIB
Seorang warga berupaya memadamkan api yang membakar semak-semak di sekitar jalan Parako Merauke, dengan menggunakan peralatan seadanya, Senin (24/8/2026).
(CEPOSONLINE.COM/SULO) 
Seorang warga berupaya memadamkan api yang membakar semak-semak di sekitar jalan Parako Merauke, dengan menggunakan peralatan seadanya, Senin (24/8/2026). (CEPOSONLINE.COM/SULO) 

CEPOSONLINE, COM, MERAUKE – Sebaran titik panas atau hotspot di wilayah Papua Selatan pada 24 Agustus 2026 mengalami penurunan dibandingkan sehari sebelumnya.

 Berdasarkan pemantauan BMKG, jumlah hotspot yang terdeteksi hingga Senin pagi mencapai 1.225 titik.

Jumlah tersebut turun cukup signifikan dibandingkan 23 Agustus 2026, ketika terdeteksi sekitar 3.000-an titik hotspot di wilayah Papua Selatan.

Peakirawan BMKG Merauke Harunn Arrashid menjelaskan, data hotspot yang dirilis pada 24 Agustus merupakan rekapan deteksi mulai 23 Agustus hingga Senin pagi. Titik panas tersebut terbagi dalam beberapa kategori berdasarkan tingkat kepercayaannya, yakni kategori lemah, sedang dan tinggi.

"Dari 1.225 titik yang terdeteksi, sebanyak 38 titik masuk dalam kategori tinggi. Kategori ini menunjukkan titik yang memiliki tingkat kemungkinan lebih tinggi berkaitan dengan adanya proses kebakaran atau kondisi yang sangat mudah terbakar, " kata Harun ditemui di kantornya, Senin (24/8/2026).

Meski demikian, BMKG belum dapat memastikan luasan lahan yang terbakar hanya berdasarkan data titik hotspot. Data hotspot lebih menunjukkan lokasi indikasi panas yang terdeteksi oleh sistem pemantauan, bukan secara langsung menunjukkan luas area yang terbakar.


Terkait penurunan jumlah hotspot pada 24 Agustus, Harun menyebut, salah satu faktor yang kemungkinan berpengaruh adalah tutupan awan.


Tutupan awan yang lebih banyak dapat menyebabkan suhu permukaan tidak setinggi hari-hari sebelumnya sehingga turut memengaruhi jumlah titik panas yang dapat terdeteksi.


“Untuk fenomena khusus sendiri tidak ada. Ini memang cenderung ke faktor lokal seperti mungkin faktor kelembapan dari wilayah tersebut,” katanya.

Harun Arrashid menegaskan, kondisi cuaca dan faktor lokal seperti tutupan awan serta kelembapan dapat memengaruhi hasil deteksi hotspot. Karena itu, perkembangan sebaran titik panas masih perlu terus dipantau, terutama terhadap titik-titik yang masuk kategori tinggi.

Dengan masih ditemukannya 38 titik kategori tinggi, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan di wilayah Papua Selatan tetap diperlukan, khususnya pada wilayah yang memiliki kondisi vegetasi kering dan mudah terbakar.(*)

Editor : Agung Trihandono
titik panas Merauke Ceposonline.com PAPUA SELATAN