CEPOSONLINE.COM, MERAUKE- Umat Katolik seluruh dunia, termasuk di Indonesia memulai Pra Paskah lewat puasa dan pantang selama 40 hari, yang ditandai dengan penerimaan abu pada hari ini, Rabu (5/3). Karena diterimakan pada hari Rabu sehingga disebut Rabu Abu.
Penerimaan abu ini dapat dilakukan oleh imam atau pembantu Imam kepada Umat Katolik lewat 2 cara yakni dengan menaburkan abu tersebut diatas kepala atau menandai di dahi dengan tanda salib.
Baru apa makna Rabu Abu yang diterima oleh setiap umat Katolik dalam mengawali Pra Paskah tersebut?
Pastor Paroki Santo Yoseph Bambu Pemali yang juga Vikep Kepikepan Merauke Samson Walewawan, Pr, mengungkapkan, penerimaan abu ini pertama sebagai tanda bahwa manusia diciptakan dari tanah dan akan kembali menjadi debu tanah. ‘’Itu salah satu maknanya,’’ katanya kepada Ceposonline.com, di Merauke, Rabu (5/3).
Makna kedua, lanjut Mantan Pastor Paroki Santo Mikhael Kudamati Merauke ini melambangkan kerendahan hati dan pertobatan. Karena manusia diciptakan Tuhan dari tanah dan akan kembali ke tanah, maka umat Katolik harus selalu belajar rendah hati dalam hidup.
‘’Makna ketiga, juga sebagai tanda bahwa pada saatnya kita juga akan kembali ke tanah. Maka dengan diberikan abu pada dahi sebagai tanda bahwa kita kekal di dunia dan nanti juga akan menyatu dengan tanah,’’ terangnya.
Bagi orang Katolik, sambung RD Samson Walewawan, begitu menghayati bahwa dengan penerimaan abu sebagai tanda bahwa mereka betul-betul mempersiapkan diri untuk menyambut peristiwa mulia yakni kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.
‘’Jadi, mereka mewujudkan dengan cara merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang berdosa dan berjuang untuk memperbaharui diri dengan selalu mengucap syukur kepada Tuhan dan juga membagi dari hasil mereka yang disebut aksi puasa untuk saudara-saudara yang berkekurangan. Jadi, mulai hari ini semua orang Katolik memulai masa puasa ini dan ada persiapkan untuk menyambut kebangkitan Tuhan,’’ tandasnya. (*)
Editor : Lucky Ireeuw