CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Ancaman pemalangan adat yang sebelumnya santer beredar di media sosial akhirnya benar-benar terjadi.
Jalan Raya Hamadi–Holtekamp, Kota Jayapura, resmi ditutup dan diblokir oleh Keluarga Besar Suku Sibri bersama Masyarakat Adat Kampung Nafri, pada Senin (09/11/2026) pagi.
Aksi penutupan jalan vital ini dilakukan tepat sesuai dengan jadwal yang tercantum dalam surat pemberitahuan sebelumnya, yakni mulai pukul 06.00 WIT.
Berdasarkan video yang beredar di WhatsApp group, pemalangan dilakukan menggunakan material kayu, tumpukan ban bekas, serta atribut adat yang melintang di tengah badan jalan. Akibat aksi blokade total ini, arus lalu lintas dari kedua arah dilaporkan lumpuh dan mengalami antrean kendaraan yang panjang.
Sejumlah pengendara roda dua maupun roda empat tampak tertahan di lokasi. Beberapa pengendara motor terlihat terpaksa berbalik arah atau mencari celah di bahu jalan demi menghindari titik blokade, sementara kendaraan besar tampak mengular menunggu kepastian pembukaan jalan.
Aksi pemalangan ini merupakan bentuk akumulasi kekecewaan Suku Sibri atas kebuntuan komunikasi dengan pemerintah daerah. Seperti diberitakan sebelumnya, aksi ini dipicu oleh persoalan ganti rugi pembebasan tanah Jalan Hamadi–Holtekamp yang diklaim masih berstatus sebagai utang pemerintah sejak tahun 2004.
Pihak adat sebelumnya telah melayangkan berbagai upaya damai, mulai dari permohonan audiensi hingga pemenuhan undangan mediasi di MRP. Namun, karena tidak mendapat respons maksimal serta mangkirnya pihak Pemerintah Provinsi Papua dari agenda mediasi, masyarakat adat akhirnya memutuskan untuk turun ke jalan dan menutup akses tersebut secara adat.
Hingga berita ini dinaikkan, situasi di sekitar lokasi pemalangan masih dipadati oleh warga dan pengendara yang tertahan. Belum ada keterangan resmi maupun pernyataan lanjutan baik dari pihak aparat keamanan (Kepolisian) maupun dari perwakilan pemilik hak ulayat Suku Sibri di lapangan terkait perkembangan negosiasi pembukaan jalan.
Masyarakat pengguna jalan diimbau untuk tetap tenang, menghindari jalur tersebut, dan beralih menggunakan rute alternatif melalui kawasan Kampung Nafri–Abepura sambil menunggu perkembangan pengamanan dan mediasi lebih lanjut dari pihak berwenang. (*)
Editor : Agung Trihandono