CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 9 Undip mengidentifikasi berbagai persoalan persampahan Kampung Woslay, Distrik Senggi.
Ketua TEP 9 Dr. Mardwi Rahdriawan beserta tim, melalui Kepala Distrik Senggi mengundang pemerintah daerah, narasumber dari UNCEN dan warga masyarakat untuk Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka tindak lanjut permasalahan sampah Kampung Woslay.
Kegiatan ini digelar 6 September lalu 2026 di Distrik Senggi, Papua yang dihadiri Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Ketahanan Pangan dan Perikanan ibu Triyani A. Fugu, Kabid Lingkungan Hidup dan TAHURA, Imanuel Renjaan, Kadistrik Daud Yunam, Dr. Himawan dari Uncen sebagai narasumber.
Triyani menyampaikan pentingnya pengelolaan sampah dari rumah tangga karena sejalan dengan keinginan Bupati yang juga serius menangani sampah di Kabupaten Keerom.
Ia memberi contoh kearifan lokal orang tua dulu dalam memperlakukan sampah. Tidak membuang sampah sembarangan, tetapi mengelola sendiri dengan baik.
Kepala Distrik, bapak Daud Yunam menyampaikan kesiapannya untuk mendukung pengelolaan sampah yang sudah menjadi program prioritas di wilayahnya.
Salahsatunya penyiapan lahan untuk lokasi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).
Undip diharap mendorong pemberdayaan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga, sehingga warga bisa mengurangi sampah.
Ketua TEP 9 Undip menyampaikan perkembangan permasalahan sampah di SP 1 dan SP 2 Kampung Woslay yang semakin parah dengan adanya 127 titik pembuangan sampah sembarangan.
Sehingga tim akan melakukan edukasi dan pemilahan sampah rumah tangga dengan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya.
Sampah organik menjadi kompos; anorganik dikumpulkan untuk guna ulang atau nilai jual, harapannya residu berkurang dan tercipta nilai guna. Hal ini diperkuat oleh Dr. Himawan dari UNCEN yang menjelaskan pentingnya lingkungan yang sehat.
Residu sampah plastik dapat diolah untuk berbagai kebutuhan manusia, termasuk untuk bahan bakar kendaraan bermotor.
Hasil diskusi dengan warga SP 1 menunjukkan bahwa persoalan sampah merupakan salah satu permasalahan yang perlu diintervensi.
Selama ini, masyarakat mengelola sampah dengan cara dibakar, ditimbun, atau dibuang di lingkungan sekitar karena belum tersedianya pelayanan persampahan yang memadai.
Dalam diskusi tersebut, warga mengusulkan agar pelayanan sampah di Kampung Woslay dilakukan melalui sistem pengangkutan dari rumah ke rumah dengan mekanisme iuran yang digunakan untuk mendukung operasional pelayanan.
Untuk mendukung sistem tersebut, diperlukan pengadaan tong sampah sebagai tempat penampungan sementara sebelum sampah diangkut ke lokasi pengelolaan.
Warga SP 1 juga menyampaikan bahwa informasi mengenai program pengelolaan sampah perlu disampaikan kepada Kepala Kampung serta seluruh pengurus RT dan RW karena memiliki peran penting dalam menggerakkan masyarakat.
Sementara itu, berdasarkan hasil diskusi dengan perwakilan masyarakat SP 2, kebiasaan membakar, menimbun, dan membuang sampah di jalan maupun irigasi dipengaruhi oleh masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai dampak sampah terhadap kebersihan lingkungan serta belum adanya program pengelolaan sampah yang berjalan di Kampung Woslay.
Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat belum memahami cara pengelolaan sampah yang baik dan benar.
Masyarakat SP 2 mengusulkan penyediaan bak sampah komunal di setiap jalur serta penerapan layanan penjemputan sampah dari rumah. Dalam mendukung keberlanjutan pelayanan tersebut, perwakilan masyarakat menyatakan kesediaannya untuk menerapkan iuran secara sukarela bagi setiap kepala keluarga (KK) dengan sistem kartu iuran dan pembayaran bulanan.
Pelaksanaan FGD menunjukkan adanya kesamaan pandangan antara Tim Ekspedisi Patriot 9 Undip, pemerintah daerah, dan masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah di Kampung Woslay.
Hasil diskusi tidak hanya mengonfirmasi kondisi persampahan yang ditemukan tim, tetapi juga menghasilkan sejumlah usulan, mulai dari penyediaan sarana pengelolaan, pelayanan pengangkutan sampah dari rumah, penerapan iuran, hingga pembentukan kelompok pengelola sampah berbasis masyarakat. (*)
Editor : Abdel Gamel Naser