CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-SMP Negeri 1 Jayapura memberikan kebijakan khusus bagi 48 siswanya yang menjadi korban kebakaran hebat di kawasan Mandala, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap para siswa yang terdampak musibah tersebut, pihak sekolah tidak hanya memberikan bantuan berupa pakaian dan kebutuhan pokok, tetapi juga membebaskan biaya komite selama satu tahun ke depan.
Kepala SMPN 1 Jayapura, Danton Hutapea, mengatakan pihak sekolah telah mendatangi langsung lokasi pengungsian untuk melihat kondisi para siswa sekaligus memastikan kebutuhan mereka pascakebakaran.
"Di sekolah kita ada 48 siswa yang kena musibah kebakaran. Kemudian kami sudah ke TKP untuk melihat situasi dan kondisi mereka," ujar Danton, di ruangan kerjanya, Kamis (3/9/2026)
Ia menjelaskan, pihak sekolah juga telah mengumpulkan bantuan secara sukarela yang nantinya akan disalurkan kepada para siswa korban kebakaran. Bantuan tersebut berupa pakaian seragam dan sembako.
"Besok, sesuai instruksi Pak Wali Kota Jayapura, kami membawa sumbangan dari sekolah berupa seragam pakaian dan juga sembako. Sudah dua hari ini kami mulai mengumpulkan sumbangan dan hasilnya sudah lumayan," katanya.
Selain bantuan tersebut, SMPN 1 Jayapura mengambil kebijakan untuk membebaskan biaya komite bagi 48 siswa korban kebakaran selama satu tahun, terhitung mulai semester ini.
"Untuk kebijakan dari sekolah, kami nanti akan sampaikan kepada orang tua. Pertama, biaya komite gratis satu tahun, kemudian biaya-biaya lainnya yang berhubungan dengan sekolah," jelasnya.
Tak hanya biaya sekolah, pihak SMPN 1 Jayapura juga akan membantu memenuhi kebutuhan seragam para siswa yang kehilangan perlengkapan sekolah akibat kebakaran.
Danton mengatakan, bantuan seragam akan diberikan secara bertahap. Prioritas awal adalah seragam putih-biru lengkap, mulai dari baju, celana atau rok, dasi, topi hingga kaus kaki.
"Paling sedikit seragam putih-biru kami berikan semua. Mulai dari kaus kaki, baju putih, celana biru atau rok biru, ditambah dasi dan topi," ujarnya.
Danton menambahkan, hingga hari ketiga pascakebakaran, para siswa korban belum kembali mengikuti aktivitas belajar di sekolah. Pihak sekolah justru mendatangi langsung lokasi pengungsian untuk memastikan kondisi dan kebutuhan mereka.
Ia juga telah meminta seluruh wali kelas untuk turun ke lokasi guna mendata secara akurat kebutuhan para siswa, mulai dari pakaian, buku pelajaran hingga perlengkapan sekolah lainnya.
"Kami yang datang ke TKP. Kalau anak-anak belum ada yang datang, tetapi kami yang mendatangi mereka”
“Saya juga baru rapat dengan wali-wali kelas dan meminta mereka ke TKP untuk mendapatkan data yang akurat, masalah pakaian, buku, dan masalah lainnya yang berhubungan dengan sekolah," jelasnya.
Menariknya, kepedulian terhadap para korban juga datang dari sesama siswa SMPN 1 Jayapura. Para siswa secara sukarela turut mengumpulkan sumbangan untuk membantu teman-teman mereka yang terkena musibah.
Dalam beberapa hari ke depan, pihak sekolah juga akan menggalang sumbangan sukarela di setiap kelas. Nominalnya tidak ditentukan dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.
"Entah seribu atau dua ribu rupiah, sesuai dengan kemampuan mereka. Tidak ada paksaan. Yang penting kami mengharapkan anak-anak ikut prihatin dengan kejadian ini dan mendukung apa yang dilakukan sekolah," ungkap Danton.
Menurutnya, gerakan tersebut bukan sekadar bentuk bantuan kemanusiaan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan karakter di lingkungan sekolah. "Ini bagian daripada proses pendidikan karakter, untuk melatih kepedulian, peduli terhadap sesama," pungkasnya. (*)
Editor : Elfira Halifa