CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Kebakaran yang melanda Kelurahan Mandala, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua Senin (31/8), tidak hanya menghanguskan rumah dan harta benda warga.
Musibah tersebut juga berdampak terhadap aktivitas pendidikan ratusan pelajar yang kehilangan seragam, buku hingga perlengkapan sekolah.
Dinas Pendidikan Provinsi Papua mencatat sedikitnya 201 pelajar terdampak kebakaran Mandala. Mereka terdiri atas tiga pelajar TK, 108 pelajar SD, 51 pelajar SMP dan 39 pelajar SMA/SMK.
Data tersebut diperoleh setelah tim Dinas Pendidikan Provinsi Papua turun langsung ke lokasi dan melakukan pendataan dengan menemui orang tua siswa di sejumlah posko pengungsian.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Marthen Medlama, mengatakan para pelajar korban kebakaran membutuhkan perhatian khusus, terutama untuk memenuhi kembali kebutuhan sekolah yang ikut terbakar.
“Dari data yang dihimpun, ada 201 pelajar yang jadi korban kebakaran. Mereka ini perlu mendapatkan penanganan, khususnya seragam sekolah,” kata Marthen kepada Cenderawasih Pos, Rabu (2/9/2026).
Menurut Marthen, data tersebut akan dibahas bersama pihak terkait untuk menentukan bentuk penanganan yang tepat bagi para pelajar terdampak.
Pemerintah berupaya memastikan kondisi tersebut tidak menyebabkan anak-anak berhenti bersekolah.
“Kita bisa bantu apa untuk anak-anak kita ini sehingga mereka tidak putus sekolah, namun mereka tetap semangat dalam kondisi ini,” ujarnya.
Marthen juga mengimbau seluruh sekolah tempat para pelajar terdampak menempuh pendidikan agar memberikan dispensasi khusus.
Hal itu diperlukan karena sebagian siswa kehilangan tempat tinggal, seragam, buku serta perlengkapan sekolah akibat kebakaran.
“Kami imbau kepada semua kepala sekolah tempat anak-anak ini bersekolah agar memberikan dispensasi. Saat ini mereka tidak memiliki pakaian sekolah karena terbakar semua, jadi tolong diberi perhatian,” tegasnya.
Ia juga mengajak Dinas Pendidikan Kota Jayapura bersama sekolah-sekolah terkait untuk memberikan perhatian terhadap kondisi para pelajar korban kebakaran.
Marthen memastikan bantuan dari Dinas Pendidikan Provinsi Papua akan disesuaikan dengan kebutuhan para siswa agar mereka dapat kembali mengikuti kegiatan belajar.
“Untuk rencana bantuan yang akan kami berikan difokuskan kepada apa yang dibutuhkan oleh anak-anak ini supaya mereka bisa melanjutkan sekolah. Semampu kami akan kami bantu karena kami berharap anak-anak ini tetap bersekolah. Jangan karena kondisi ini lalu mematahkan semangat mereka,” katanya.
Selain kebutuhan pendidikan, kondisi psikologis para pelajar juga menjadi perhatian. Marthen menilai anak-anak yang menjadi korban kebakaran membutuhkan pendampingan agar tidak mengalami tekanan setelah kehilangan tempat tinggal dan barang-barang mereka.
“Mereka tidak boleh secara psikologi down. Kita harus memberikan healing kepada mereka supaya mereka tetap semangat dalam kondisi apa pun dan tetap bersekolah,” katanya.
Ia menegaskan, pemerintah bersama pihak sekolah perlu memastikan para pelajar tetap mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan meski tengah menghadapi situasi sulit akibat kebakaran.
Dampak kebakaran tersebut dirasakan langsung oleh para pelajar. Salah satunya Arifin, yang mengaku belum kembali ke sekolah karena seragam dan buku pelajarannya ikut terbakar.
“Belum masuk sekolah karena baju sekolah saya terbakar, buku-buku juga,” kata Arifin.
Arifin bersama teman-temannya berharap pemerintah dapat membantu menyediakan kembali seragam, buku dan perlengkapan sekolah lainnya agar mereka dapat kembali mengikuti kegiatan belajar.
Berbeda dengan Arifin, Noval, siswa kelas V SD yang juga menjadi korban kebakaran, masih dapat bersekolah karena sebagian seragamnya berhasil diselamatkan saat kebakaran.
“Saya tetap ke sekolah karena baju sekolah saya masih ada yang diselamatkan saat kebakaran kemarin,” pungkasnya. (*)
Editor : Elfira Halifa