CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Sejak awal pendaratan Kapten Infanteri FJP Sachse di Kota Jayapura pada 1909, ia dan regu militernya dari Kerajaan Belanda membagi Hollandia (sekarang Kota Jayapura) menjadi dua wilayah.
Di wilayah utara, Hollandia bagian pelabuhan diberi nama Hollandia Haven, yang sekarang pusat Kota Jayapura.
Sedangkan wilayah selatan dari Hollandia Haven diberi nama Hollandia Binnen.
Dengan karakteristik inilah, Hollandia disebut sebagai two cities within a city, atau dengan kata lain, dua kota di dalam satu kota.
Dewasa ini, Hollandia Binnen dikenal sebagai Abepura.
Lantas bagaimana ceritanya sampai Hollandia Binnen ini bisa berubah nama menjadi Abepura?
Bahkan, wilayah ini sekarang terkenal dengan nama LA.
Apakah ini merujuk pada Los Angeles yang ada di Amerika Serikat?
Diketahui, wilayah Abepura atau yang lebih sering disebut “Abe” berasal dari akronim Hollandia Binnen (HB) yang dilafalkan “habe”.
Sedangkan untuk etimologi dari sufiks, “-pura” yang disematkan di akhiran “Abe” berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya adalah kota.
Demikian, Abepura bermakna Kota Abe, atau Kota Hollandia Binnen (HB).
Berubahnya nama Hollandia Binnen menjadi Abepura seiring dengan perubahan nama Hollandia menjadi Kota Jayapura pada 1968 oleh Presiden Soeharto.
Sama halnya dengan etimologi Abepura, arti literal dari Jayapura juga diambil dari bahasa Sanskerta, di mana “Jaya” berarti kemenangan, dan sufiks “–pura” bermakna kota.
Tak ayal, Jayapura bermakna Kota Kemenangan.
Meskipun demikian, adapula yang menyebutkan bahwa “Abe” atau “Abepura” berasal dari Algemene Begraafplaats, yang dalam bahasa Belanda berarti Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Tak heran, sebab memang terdapat TPU yang berlokasi di wilayah Hollandia Binnen.
Saat ini, “Abe” atau “Abepura” terkenal dengan sebutan LA.
Akronim ini populer di kalangan anak muda yang menyebut penduduk Abepura sebagai “warga sekitaran LA”.
Namun, ini sama sekali tak merujuk pada Los Angeles di California, Amerika Serikat.
Sebaliknya, ini merupakan akronim dari Lingkaran Abepura yang menjadi jantung dari wilayah Abepura.
Di lokasi inipula berdiri Tugu Pendidikan yang merupakan salah satu ikon di Kota Jayapura.
Adapun sejak pertama didirikan Kapten Sachse pada 1910-an, Hollandia Binnen telah melalui pembangunan dari masa ke masa.
Termasuk di masa balatentara Jepang menduduki Hollandia pada 19 April 1942 – 6 Juni 1944.
Di bawah kuasa Jepang, Hollandia menjadi kota tentara dan Hollandia Binnen sendiri tak dibangun secara signifikan.
Jepang membangun jalan-jalan yang menghubungkan Hollandia Haven ke Hollandia Binnen, dan selanjutnya menuju Sentani.
Di wilayah Hollandia Binnen, Jepang membangun dermaga di wilayah Abepantai.
Semua ini dilakukan Jepang dengan tujuan menjadikan Hollandia sebagai titik tumpuan gerakan militer di daerah pasifik barat menuju Australia.
Hollandia Binnen baru kembali mendapat sentuhan pembangunan setelah Hollandia dikuasai Sekutu pimpinan Jenderal Douglas MacArthur pada 6 Juni 1944.
Hollandia Binnen dibangun sebagai pusat pemerintahan.
Dan untuk mewujudkan pusat pemerintahan yang baik , dilakukan berbagai usaha perbaikan kota.
Untuk itu, dibangun rumah-rumah semi permanen, saluran-saluran pembuangan air, dan usaha-usaha sanitasi lainnya.
Usaha pembangunan rumah-rumah para pegawai Pemerintah Kolonial Belanda di sini dibangun sampai tahun 1950.
Bahkan, Ambtswoning Residen Nieuw Guinea Jan Pieter Karel van Eechout bertempat di Hollandia Binnen pada periode 1946 – 1958, sebelum akhirnya berpindah ke Paleis Noordwijk di wilayah Dok 5 Atas.
Sekarang, Abepura merupakan distrik dengan penduduk terbanyak di Kota Jayapura.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per 2023, dari total 417.611 penduduk Kota Jayapura, sebanyak 129.565 penduduk berdomisili di Abepura.
Tak ayal pembangunan di wilayah inipun berlangsung siginifikan, di mana selain pemukiman warga, dibangun juga perkantoran, rumah ibadah, pusat perbelanjaan, sekolah, dan perguruan tinggi seperti Universitas Cenderawasih dan Universitas Sains dan Teknologi. (*)
Sumber:
Sejarah Sosial Daerah Irian Jaya dari Hollandia ke Kotabaru 1910 - 1963
Studi Kasus Migrasi di Papua: Perkembangan Kota Hollandia 1944 - 1962
Editor : Gratianus Silas