Milik Potensi Menjanjikan, Ajak Tiap Keluarga Tanam 300 Pohon Kopi
Menjadi petani kopi di Papua saat ini ternyata menjadi pilihan yang menjanjikan. Penghasilannya bisa lebih dari gaji pegawai negeri, bahkan lebih. Itulah yang dialami Moses Yigibalom, petani kopi asal Lanny Jaya. Kepada media ini, ia berbagi cerita.
Laporan – Noel Untung Wenda.
Moses, begitu panggilanya. Serius meracik kopi. Ia demonstarikan produk kopi olahannya sendiri di sela-sela Seminar Nasional Konferpussus Kamar Adat Pengusaha Papua ( KAPP) di Hotel Grand Abe, pekan lalu.
Dirinya sudah tekuni cukup lama usaha ini. Ia bahkan sudah memiliki produk kopi dengan merekanya sendiri, yakni Kopi Lany Mendek yang jika diartikan, Kopi asal dari Lanny.
Melihat prospek yang menjanjikan dari Kopi, Moses mengajak masyarakat Lanny Jaya di setiap Kampung untuk wajib menam kopi.
Dikatakna, Lani Jaya yang memiliki lahan dan ketinggian yang cocok untuk bertani kopi. Menurutnya, selain bertani umbi - unbian dan sayur mayur, seharusnya setiap kampung sudah memiliki lahan kopi di masing – masing.
Keunggulan dengan potensi lahan yang diwariskan orang tua menginspirasi Moses Yigibalom mulai mengembangkan usaha di dunia perkopian dengan peralatan seadanya sejak 2016.
"Saya berharap pemerintah keluarkan peraturan daerah untuk mewajibkan setiap kampung menanam kopi jadi setiap kampung. Setiap keluarga wajib tanam kopi 300 pohon," katanya.
Sebab, hasil dari kopi sebenarnya masyarakat sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari warga, sebagaimana yang dirinya alami. Ini karena banyaknya peminat kopi di papua dan di Indonesia. Apalagi kualitas dari kopi Lani Ja ya sendiri sudah sangat luar biasa dan diminti di pasar nasional, bahkan internasional.
" Karena kalau tanam kopi masyarakat sudah bisa menghidupi keluarga, seperti ASN yang mendapat gaji setiap bulan, dan Petani bisa lebih menonjol, pengasilan bisa meningkat" katanya.
Ia mengatakan, sebenarnya yang berminat untuk memperoleh Kopi Lani Jaya itu sangat banyak, tetapi ia khawatir jangan sampai permintaan banyak sementara hasil pertanian hanya sedikit. Sehingga, pihaknya berharap, pemerintah harus membuat peraturan daerah, bahwa setiap masyarakat wajib tanam kopi.
" Kita punya petani ada yang mau kerja ada yang tidak, maka saya ajak masyarakat tanam kopi di masing - masing keluarga," katanya.
Sebagai generasi muda, ia pun mengajak pemuda Papua khususnya di kabupatennya untuk mengembangkan sumber daya alam yang ada di daerahnya masing-masing dengan bertani, karena disitulah kekuatan untuk mandiri dan mampu berdiri sendiri menghidupkan keluarga.
" Pemuda belum ada yang bergerak padahal di sana banyak sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan tapi teman-teman pemuda masih fakum, belum bergerak sama sakali dan masih menonjol masih berharap ke pemerintah," katanya.
Moses yang melajutkan usah orang tuanya itu ia memiliki lahan di Lani Jaya sejak tahun 1986, Moses juga tertarik dan menjadi penikmat kopi, maka ia diberikan kepercayaan membagikan pegalamannya sebagai pengusaha kopi dalam Seminar Nasional Konferpussus KAP Papua di Hotel Grand Abe Jayapura. Senin, (11/11).
“ Berawal tahun 2016, dengan modal Rp 60 ribu, kini saya bisa menjadi petani kopi dan punya kedai. Semua tergantung kita, bagaimana memanfaatkan hasil bumi yang ada di tempat tinggal kita masing-masing,” kata Moses.
Dengan nama kopi Lani Mendek mulai diangkat Moses, ia mengajak serta beberapa petani kopi untuk menjadi mitra.
“Kini sudah membentuk komunitas kopi yang beranggotakan 28 petani. saya juga petani kopi sekaligus pemilik kedai kopi. Dan berharap kepada anak-anak muda Lani Jaya dan umumnya anak Papua untuk berani mencoba dengan apa yang ada di sekitar kita, baik itu kopi, kacang tanah, jagung, kedelai dan masih banyak lainnya, hanya mereka tidak ingin mencoba,” kata Moses.
Ia bercerita, selama ini pengusaha lokal berjalan sendiri karena belum ada perhatian dari pemerintah daerah. Moses berharap kehadiran KAP Papua bisa menjadi wadah untuk menjawab kebutuhan pengusaha muda sepertinya.***
Editor : Administrator