Dikira Sudah Sembuh dari Keracunan Makanan, Ternyata Tubuh Masih Butuh Pemulihan

Elfira Halifa • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 04:17 WIB
Ilustrasi. (AI)
Ilustrasi. (AI)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Keracunan makanan dapat menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari mual, muntah, diare, kram perut, kelelahan, hingga demam. Meski sebagian besar kasus membaik dalam beberapa hari, sebagian orang masih mengalami gangguan pencernaan setelah gejala utama mereda.

Keracunan makanan umumnya terjadi akibat konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, atau racun. Lama pemulihan bergantung pada penyebab infeksi, tingkat keparahan gejala, serta kondisi kesehatan masing-masing orang.

Dikutip dari Harvard Health, gejala keracunan makanan dapat berlangsung selama beberapa hari. Namun, infeksi tertentu yang disebabkan bakteri seperti E. coli, Salmonella, atau Campylobacter bisa membutuhkan waktu pemulihan lebih lama.

Setelah muntah dan diare mereda, sebagian orang masih merasakan kembung, mudah lelah, atau lebih sensitif terhadap makanan tertentu. Karena itu, proses pemulihan perlu dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan cairan dan kemampuan tubuh menerima makanan kembali.

Salah satu hal terpenting selama pemulihan adalah mencegah dehidrasi. Muntah dan diare dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit.

Untuk menggantikan cairan yang hilang, penderita dapat minum air putih sedikit demi sedikit, terutama jika masih merasa mual. Kaldu bening juga dapat menjadi pilihan.

Jika kehilangan cairan cukup banyak, larutan rehidrasi oral dapat membantu menggantikan cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan.

Ketika nafsu makan mulai kembali, konsumsi makanan dalam porsi kecil dan tingkatkan secara bertahap sesuai toleransi tubuh. Beberapa pilihan yang dapat dicoba antara lain nasi, roti tawar, biskuit sederhana, oatmeal, telur matang, ayam, ikan, serta sayuran yang dimasak hingga lunak.

Untuk sementara, batasi makanan berlemak, gorengan, makanan pedas, minuman berkafein, dan makanan atau minuman yang terasa memperburuk keluhan. Produk susu juga dapat memicu gangguan pada sebagian orang setelah mengalami infeksi pencernaan.

Tidak perlu memaksakan diri mengikuti pantangan makanan yang terlalu ketat. Pilihan makanan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan respons tubuh selama pemulihan.

Pada sebagian orang, gangguan pencernaan dapat bertahan setelah infeksi mereda. Jika keluhan terus berulang atau tidak kunjung membaik, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.

Probiotik maupun antibiotik tidak selalu diperlukan untuk mengatasi keracunan makanan. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan penyebab penyakit dan anjuran tenaga medis.

Segera cari pertolongan medis apabila muntah terus-menerus membuat cairan sulit masuk, muncul tanda dehidrasi seperti urine sangat sedikit atau pusing saat berdiri, terdapat darah pada tinja, demam tinggi, atau diare berlangsung lebih dari tiga hari.

Anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah perlu mendapat perhatian lebih karena berisiko mengalami komplikasi.

Pemulihan setelah keracunan makanan tidak hanya bergantung pada meredanya muntah dan diare. Menjaga kecukupan cairan, kembali makan secara bertahap, dan mengenali tanda bahaya menjadi langkah penting untuk membantu tubuh pulih serta mencegah komplikasi. (*)

Editor : AdminDua
keracunan