Sering Jadi Lauk Sederhana, Ternyata Tempe Menyimpan 9 Asam Amino Penting

Elfira Halifa • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 04:13 WIB
Ilustrasi. (AI)
Ilustrasi. (AI)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Tempe selama ini dikenal sebagai lauk sederhana yang mudah ditemukan di meja makan masyarakat Indonesia. Harganya relatif terjangkau dan dapat diolah menjadi beragam hidangan.

Namun, di balik kesederhanaannya, makanan berbahan dasar kedelai ini menyimpan kandungan gizi yang bermanfaat bagi tubuh.

Tempe merupakan salah satu sumber protein nabati yang juga mengandung serat, zat besi, kalsium, serta lemak tak jenuh. Kandungan tersebut menjadikannya pilihan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi sehari-hari.

Popularitas tempe bahkan semakin meluas ke berbagai negara. Teksturnya yang padat, cita rasa gurih, serta kemampuannya diolah menjadi berbagai hidangan membuat tempe kerap digunakan sebagai alternatif protein hewani.

Dikutip dari Jawa Pos, tempe dibuat melalui proses fermentasi kedelai menggunakan kultur mikroorganisme selama sekitar dua hingga tiga hari. Proses ini menghasilkan tekstur padat dan cita rasa khas yang sedikit menyerupai kacang.

Dari sisi nutrisi, tempe memiliki kandungan protein dan serat yang cukup tinggi. Dalam setiap setengah cangkir tempe polos, terkandung sekitar 18 gram protein dan 6 gram serat.

Tempe juga menyediakan sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Karena mengandung seluruh asam amino tersebut, tempe dapat menjadi salah satu pilihan sumber protein lengkap dari bahan nabati.

Proses fermentasi turut mengubah sebagian protein dan pati dalam kedelai. Perubahan ini dapat membuat tempe lebih mudah dicerna oleh sebagian orang dibandingkan kedelai yang belum difermentasi.

Meski demikian, tempe tidak selalu dapat dianggap sebagai sumber probiotik. Sebab, sejumlah produk tempe komersial telah melalui proses pemanasan atau pasteurisasi yang dapat membunuh mikroorganisme hidup.

Karena itu, nilai gizi tempe lebih tepat dilihat dari kandungan protein, serat, mineral, dan lemak tak jenuhnya, bukan semata-mata dari proses fermentasi.

Selain memperhatikan kandungan gizinya, cara mengolah tempe juga penting. Tempe polos dapat dipanggang, dibakar, ditumis dengan sedikit minyak, atau dimasak menggunakan air fryer.

Cara tersebut memungkinkan penggunaan minyak, garam, dan gula lebih terkontrol dibandingkan beberapa metode pengolahan lainnya.

Tempe juga mudah dipadukan dengan berbagai bahan makanan. Potongannya dapat ditambahkan ke dalam salad, tumisan sayur, sandwich, maupun hidangan berbumbu sebagai pengganti sebagian protein hewani.

Sebaliknya, konsumsi tempe goreng atau produk tempe berbumbu tetap perlu diperhatikan. Penggunaan minyak berlebih serta tambahan garam dan gula dapat meningkatkan kandungan lemak, natrium, maupun kalori dalam hidangan.

Untuk memperoleh manfaat gizi yang lebih beragam, tempe dapat dikombinasikan dengan sayuran, buah-buahan, dan sumber karbohidrat bergizi dalam menu sehari-hari.

Dengan kandungan protein, serat, dan mineralnya, tempe bukan sekadar lauk sederhana. Jika diolah dengan tepat dan dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang, tempe dapat menjadi pilihan pangan bergizi yang mudah dijangkau masyarakat. (*)

Editor : AdminDua
kedelai Tempe