CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA-Bisakah seorang pria biologis suatu hari hamil dan melahirkan? Pertanyaan yang terdengar seperti cerita fiksi ilmiah ini ternyata memiliki sejumlah persoalan medis yang menarik untuk dibahas.
Secara teknologi, kemampuan pria biologis untuk mengalami kehamilan belum dapat diwujudkan pada manusia. Namun, secara teori, para ilmuwan dapat membayangkan sejumlah tahapan medis yang harus dilakukan jika skenario tersebut suatu hari ingin diwujudkan.
Tantangan pertama tentu keberadaan rahim. Organ tersebut menjadi tempat janin berkembang selama masa kehamilan.
Secara teoritis, rahim harus diperoleh melalui transplantasi dari seorang pendonor. Namun, transplantasi rahim bukanlah prosedur sederhana. Operasi tersebut termasuk tindakan medis kompleks yang membutuhkan persiapan, pemantauan, serta pengobatan untuk mencegah tubuh menolak organ yang ditransplantasikan.
Persoalannya tidak berhenti pada transplantasi rahim. Tubuh pria biologis tidak memiliki sistem reproduksi dan kondisi hormonal yang sama dengan perempuan.
Padahal, kehamilan membutuhkan perubahan hormonal yang kompleks untuk mendukung perkembangan janin sekaligus mempertahankan kehamilan.
Karena itu, secara teori diperlukan terapi hormon dan pemantauan medis intensif agar kondisi tubuh dapat mendukung proses tersebut.
Intervensi hormonal juga memiliki berbagai potensi efek samping dan risiko. Perubahan kadar hormon dapat memengaruhi kondisi fisik maupun fungsi tubuh lainnya.
Selain persoalan hormon, sistem pembuluh darah dan jaringan di sekitar rahim juga harus mampu mendukung perkembangan janin. Artinya, transplantasi organ saja belum cukup untuk membuat kehamilan dapat berlangsung.
Dilansir dari Radar Tuban, Jika kehamilan berhasil terjadi, persoalan berikutnya adalah bagaimana proses persalinan dilakukan.
Pria biologis tidak memiliki vagina dan saluran reproduksi perempuan yang memungkinkan persalinan melalui jalan lahir. Dalam skenario hipotetis, persalinan kemungkinan membutuhkan operasi sesar.
Namun, kemungkinan tersebut masih merupakan gambaran teoritis. Belum ada prosedur medis yang memungkinkan pria biologis menjalani seluruh rangkaian proses tersebut hingga melahirkan.
Kasus yang selama ini dikenal sebagai “pria hamil” dalam dunia medis umumnya merujuk pada pria transgender yang masih memiliki rahim dan organ reproduksi perempuan sehingga secara biologis masih memungkinkan mengalami kehamilan.
Penelitian transplantasi rahim sendiri terus berkembang, tetapi prosedur tersebut masih memiliki berbagai risiko dan tantangan medis. Di antaranya risiko operasi, penolakan organ, penggunaan obat penekan sistem kekebalan tubuh, serta komplikasi yang dapat terjadi selama kehamilan.
Karena itu, gagasan mengenai pria biologis yang dapat hamil dan melahirkan saat ini masih berada dalam ranah teori ilmiah.
Jika teknologi tersebut suatu hari berkembang hingga memungkinkan terjadinya kehamilan pada pria biologis, persoalannya tidak hanya menyangkut dunia kedokteran. Hukum, etika, layanan kesehatan, hingga kebijakan sosial juga akan menghadapi berbagai pertanyaan baru.
Untuk saat ini, pria biologis masih belum dapat hamil dan melahirkan melalui teknologi medis yang tersedia.(*)
Editor : Elfira Halifa