
CEPOSONLINE.COM, KEEROM - Sejumlah koordinator mahasiswa distrik dan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Keerom membantah keras isu rencana aksi demonstrasi terkait keterlambatan pencairan bantuan biaya studi.
Narasi aksi unjuk rasa yang beredar melalui pamflet (flayer) di media sosial dan grup WhatsApp tersebut dipastikan merupakan informasi bohong (hoaks).
Keterlambatan penyaluran bantuan studi bagi beberapa mahasiswa saat ini disebabkan oleh proses verifikasi serta sinkronisasi data penerima di dinas terkait, bukan lantaran penghentian program.
Koordinator Mahasiswa Distrik Senggi-Kaesenar, Robi Apnawas, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan selama ini berjalan tanpa kendala. Keterlambatan penyaluran bantuan studi bagai beberapa mahasiswa kali ini murni dipicu oleh penataan data penerima.
"Selama ini proses realisasi baik-baik saja. Saat ini ada kekeliruan data saja sehingga hal ini sedikit terlambat. Kami para koordinator sedang berjuang agar proses realisasi tetap berjalan dan meminta rekan-rekan mahasiswa untuk bersabar," ujar alumni FISIP Universitas Cenderawasih (Uncen) tersebut kepada Ceposonline.Com, Kamis (17/9/2026) malam.
Hal senada disampaikan Koordinator Distrik Yaffi, Web, dan Towe, Titus Watae. Menurut mahasiswa FKIP Uncen semester 7 ini, keterlambatan administratif juga dipengaruhi oleh transisi kepemimpinan di dinas teknis.
"Informasi dari dinas, data masih diverifikasi. Kami tegaskan isu demo itu hoaks dari oknum tidak bertanggung jawab. Kami tidak ada niat demo, mahasiswa fokus belajar," tegas Titus.
Ia juga menyebutkan bahwa realisasi beasiswa selama ini tidak pernah terkendala. Sehingga ia yakin mahasiswa yang belum mendapatkan segera
direalisasikan.
Menurutnya, ada oknum-oknum yang iri sehingga sengaja untuk menyebarkan berita hoaks dengan mengadu domba mahasiswa dengan pemerintah Kabupaten Keerom dan menggiring mahasiswa untuk melakukan aksi demo.
Dari wilayah lain, Koordinator Distrik Arso, Arso Timur, dan Mannem, Anita Bogor, mengimbau seluruh mahasiswa dan orang tua agar tidak terprovokasi oleh narasi yang beredar di media sosial.
"Alasan belum terealisasi karena data mahasiswa sementara kami sinkronkan agar dinas menyalurkan bantuan sesuai data yang akurat. Kami pastikan tidak ada mahasiswa dari wilayah kami yang ikut aksi," kata mahasiswa STPK semester 3 tersebut.
“Beasiswa selama ini berjalan sesuai dengan yang kita harapkan, baik-baik saja. Saya pastikan tidak ada mahasiswa dari Distrik Mannem-Arso Timur ikut demo. Karena saya tidak ingin ada hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi kepada mahasiswa,” sambungnya.
Sementara itu, Ketua KNPI Keerom, Yan Christian May, menegaskan pihaknya siap mendampingi mahasiswa dan memfasilitasi komunikasi dengan pemerintah daerah.
Ia mengingatkan bahwa penyaluran dana daerah harus bertumpu pada validitas data, termasuk verifikasi melalui pangkalan data Pendidikan Tinggi (Dikti).
“Di Dinas nanti mereka melihat portal di Dikti, karena banyak pengalaman ada mahasiswa punya kartu mahasiswa, KRS dan lain-lain tapi kalo di Dikti tidak ada ini harus butuh pembuktian juga,” ucapn Yan.
Yan juga memastikan bahwa tidak ada aksi demo dari mahasiswa Keerom sesuai yang beredar. Menurutnya, isu tersebut hanya dibangun oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab lewat akun palsu di media sosial.
“Pada kesempatan ini perwakilan dari Distrik, Arso, Arso Timur, Senggi, Waris, Senggi, Web semua sudah ada. Dan mereka pastikan tidak ada rencana demo,”
Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Keerom periode 2011–2014 ini menyatakan akan mengambil langkah hukum terhadap pihak yang menyebarkan hoaks dan berpotensi mengganggu Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas).
"Kami menilai informasi ini sarat hoaks dan disebarkan akun palsu. Kami siap melaporkan dan mengusut pihak-pihak tersebut ke unit Siber Polda Papua. Cara-cara kekerasan bukan budaya mahasiswa Keerom," pungkas Yan. (*).
Editor : Weny Firmansyah