Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Pembangunan Asrama Don Bosco Keerom Dimulai, Targetkan Jadi Role Model Pendidikan Papua

Erianto Pasae • Selasa, 23 Juni 2026 | 10:18 WIB

 

Bupati Keerom, Piter Gusbager saat berfoto dengan Uskup Keuskupan Jayapura Mgr Yanuarius Theofilus Matopai You dalam peletakan batu pertama gedung baru asrama putra-putri Santo Don Bosco di Arso Kota, Kabupaten Keerom, pada Senin (22/6/2026). (CEPOSONLINE.COM/ERIANTO).
Bupati Keerom, Piter Gusbager saat berfoto dengan Uskup Keuskupan Jayapura Mgr Yanuarius Theofilus Matopai You dalam peletakan batu pertama gedung baru asrama putra-putri Santo Don Bosco di Arso Kota, Kabupaten Keerom, pada Senin (22/6/2026). (CEPOSONLINE.COM/ERIANTO).

CEPOSONLINE.COM, KEEROM - Bupati Keerom, Piter Gusbager, meresmikan peletakan batu pertama untuk pembangunan gedung baru asrama putra-putri Santo Don Bosco di Arso Kota, Kabupaten Keerom, pada Senin (22/6/2026).

Pembangunan fasilitas ini merupakan langkah nyata pemerintah daerah dalam mendukung kemajuan pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda di wilayah Papua.

Bupati Gusbager menegaskan bahwa pembangunan pendidikan di Papua tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Ia menyebutkan ada tiga pilar utama yang menentukan masa depan generasi muda, yaitu pemerintah, gereja, dan masyarakat adat.

Menurut Bupati Gusbager, kolaborasi ketiga elemen tersebut telah terbukti mampu menjaga kedamaian dan keamanan di Papua hingga saat ini. Kerja sama tersebut bukan sekadar aturan formalitas, melainkan fondasi utama untuk membangun sumber daya manusia Papua yang berkualitas.

Orang nomor satu di Kabupaten Keerom itu juga menjelaskan bahwa pembentukan karakter manusia sangat efektif jika dilakukan melalui sistem pendidikan asrama.

Diketahui Pemkab Keerom memberikan dukungan penuh terhadap proyek ini melalui alokasi dana secara bertahap. Total anggaran yang disiapkan untuk pembangunan Asrama Santo Don Bosco adalah sebesar Rp 14 miliar.

Saat ini, dana tahap pertama sebesar Rp 7 miliar telah diserahkan beberapa waktu lalu dan sedang digunakan untuk proses pembangunan asrama putri. Sementara itu, sisa dana sebesar Rp 7 miliar untuk tahap kedua akan dialokasikan untuk pembangunan asrama putra.

“Maka asrama Don Bosco ini kami harapkan pembangunannya berjalan lancar, selesai, dan tidak menghadapi masalah yang berarti,” ungkap Bupati Gusbager kepada awak media.

“Dan kita akan memastikan seluruh fasilitas, sarana pendukung kegiatan belajar-mengajar. Ya. Kita pastikan asrama ini akan menjadi role model pendidikan di Kabupaten Keerom,” sambungnya.

Lebih lanjut, Bupati Gusbager menekankan asrama ini bersifat terbuka untuk umum. Hal ini sejalan dengan prinsip lembaga Katolik yang melayani seluruh lapisan masyarakat.

“Asrama ini tidak hanya untuk anak-anak Katolik, tidak hanya untuk anak-anak Keerom. Asrama ini menampung siapa saja yang kurang beruntung. Siapa saja, anak-anak dari mana saja, termasuk dari luar Papua yang kurang beruntung akan kita tampung di sini,” ujarnya.

Bupati Gusbager juga memberikan jaminan terkait kebebasan beragama bagi anak-anak yang akan tinggal di asrama tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak pengelola asrama tidak akan mengubah keyakinan agama para siswa.

“Dari gereja mana, dari agama mana saja akan datang. Gereja Katolik tidak akan pernah merampas hak keyakinan mereka dari agama lain, enggak mungkin. Yang Kristen Protestan akan tetap menjadi seorang Protestan, yang Muslim tetap akan menjadi yang Muslim di sini,” ucapnya.

“Gereja Katolik hanya menyiapkan fasilitas dan sarana pendukung untuk memastikan mereka menjadi orang yang berguna di masa yang akan datang sesuai dengan keyakinan mereka,” pungkasnya.

Senada dengan itu, Uskup Keuskupan Jayapura Mgr Yanuarius Theofilus Matopai You menegaskan bahwa pembangunan ini merupakan wujud nyata kepedulian Gereja Katolik dalam membina generasi muda. Ia juga memastikan asrama ini kelak terbuka untuk pelajar dari semua latar belakang agama.

Mgr. Yanuarius menjelaskan, pendidikan berasrama adalah metode yang telah terbukti berhasil mencetak sumber daya manusia yang unggul, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

"Saya jadi uskup juga karena saya hidup di asrama. Bapak Bupati (Piter Gusbager) ini juga hidup di asrama. Sehingga urgensi adanya asrama itu tidak bisa kita tawar lagi," ujarnya.

Terkait penerimaan penghuni asrama, Uskup Jayapura menekankan makna kata "Katolik" yang berarti umum. Oleh karena itu, fasilitas ini tidak eksklusif hanya untuk anak-anak beragama Katolik. Sistem ini sama seperti sekolah-sekolah Katolik yang menerima siswa dari berbagai latar belakang keyakinan.

"Jadi anak-anak dari gereja mana, dari agama mana, boleh tinggal diasramakan. Pintu tetap terbuka. Kita tidak ada maksud untuk mau mengkatolikkan, tidak. Tapi yang penting ada keterbukaan dari hati, dari pihak orang tua, kita tetap terbuka," tutupnya. (*)

Editor : Weny Firmansyah
#asrama #Ceposonline.com #KEEROM