CEPOSONLINE.COM, SENTANI - Kabut putih yang menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Jayapura dalam dua pekan terakhir bukan disebabkan oleh asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kabut ini terbentuk secara alami akibat kelembapan udara yang tinggi dan suhu permukaan yang dingin.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jayapura, Lefinus Ragainaga, mengatakan pihaknya telah memantau pergerakan kabut yang mulai terlihat di wilayah tersebut sekitar dua minggu terakhir.
Menurutnya, setelah menerima rilis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kabut yang muncul merupakan fenomena alam akibat kondisi atmosfer yang mendukung terbentuknya titik-titik air di dekat permukaan tanah.
“Berdasarkan rilis BMKG, kabut yang menyelimuti Kabupaten Jayapura dan sekitarnya terbentuk karena kelembapan udara yang tinggi serta suhu permukaan yang dingin. Jadi, kabut putih ini bukan disebabkan oleh asap karhutla,” jelas Lefinus, Senin (12/10/2026).
Ia mengungkapkan, berdasarkan data BPBD Kabupaten Jayapura, terdapat 12 kasus kebakaran hutan dan lahan sejak pertengahan Agustus 2026 hingga saat ini.
Namun, menurutnya, kejadian. tersebut tidak menjadi penyebab kabut yang saat ini terlihat di wilayah Kabupaten Jayapura.
Lefinus menjelaskan, kabut terbentuk melalui proses kondensasi ketika udara lembap mengalami pendinginan hingga uap air berubah menjadi butiran air kecil yang melayang di dekat permukaan tanah.
Secara umum, kabut memiliki warna putih atau abu-abu terang, tidak berbau, dan dapat mengurangi jarak pandang.
Sementara itu, kabut asap akibat kebakaran atau pembakaran cenderung berwarna lebih gelap dan berbau. Paparan asap juga berisiko mengganggu kesehatan, antara lain menyebabkan iritasi mata dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Karena itu, masyarakat diimbau memahami perbedaan antara kabut alami dan kabut asap. Meski demikian, warga tetap perlu memperhatikan kondisi jarak pandang serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BPBD setempat.(*)
Editor : Agung Trihandono