Jeritan Hati Sopir Angkot Sentani–Genyem di Tengah Perubahan Zaman

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 08:16 WIB
Para sopir angkot trayek  Sentani–Genyem menunggu penumpang di Pasar Pharaa Sentani. Kamis (23/7/2026). (CEPOSONLINE.COM/PRIYADI)
Para sopir angkot trayek  Sentani–Genyem menunggu penumpang di Pasar Pharaa Sentani. Kamis (23/7/2026). (CEPOSONLINE.COM/PRIYADI)

Sudah bertahun-tahun sopir angkutan umum trayek Sentani–Genyem mengeluhkan pendapatan yang terus menurun. 


Demi mendapat nomor antrean, mereka rela berangkat sejak tengah malam. Namun hingga siang hari, tak jarang mobil belum juga penuh penumpang. Seperti apa kisah perjuangan para sopir angkot ini?

Jarum jam baru menunjukkan pukul 11.00 WIT, Kamis (23/7/2026),  Di Terminal Pasar Pharaa Sentani, deretan angkutan umum trayek Sentani–Genyem masih sabar menunggu giliran.


 Mesin-mesin mobil dimatikan, para sopir duduk termenung di balik kemudi sambil berharap penumpang segera memenuhi kursi. Namun harapan itu kini semakin sulit menjadi kenyataan.


Sekadar diketahui dulu, trayek Sentani–Genyem menjadi salah satu jalur primadona  alias menjadi angkutan yang ramai. Kini kondisinya jauh berbeda 180 derajat. Kehadiran taksi online, mobil pikap atau yang dikenal masyarakat sebagai "blakos", serta semakin banyak warga yang memiliki kendaraan pribadi membuat penumpang angkot terus berkurang.


Bagi para sopir, menunggu penumpang bukan lagi hitungan menit, melainkan berjam-jam.


Salah satunya dirasakan Miskun. Sopir yang telah puluhan tahun mencari nafkah di trayek ini mengaku harus berangkat dari rumah sejak pukul 00.00 WIT agar mendapat nomor antrean lebih awal di terminal.


"Datang dari tengah malam supaya dapat nomor antrean. Tapi sampai jam 11 siang kadang belum juga berangkat karena masih menunggu penumpang," ujarnya.


Dalam sehari, mobil kijang Doyok berkapasitas sembilan penumpang itu belum tentu terisi penuh. Padahal, ongkos perjalanan Sentani–Genyem hanya Rp35.000 per orang. Jika kursi kosong, pendapatan yang diperoleh jauh dari cukup untuk menutup biaya operasional.


Belum lagi harga suku cadang kendaraan yang terus meningkat, kewajiban membayar pajak kendaraan, hingga sulitnya memperoleh solar bersubsidi yang membuat sopir harus menghabiskan waktu mengantre di SPBU.


Meski demikian, Miskun memilih tetap bertahan. Profesi itu telah menjadi sumber penghidupan keluarganya selama 
lebih dari 40 tahun.


"Mau bagaimana lagi. Ini pekerjaan utama saya. Usia saya sudah di atas 50 tahun, kalau berhenti saya harus kerja apa lagi," katanya dengan mata berkaca-kaca.


Keluhan serupa disampaikan Pilatus Nainggolan. Menurutnya, penurunan jumlah penumpang semakin terasa sejak banyak mobil pikap dan kendaraan lain ikut mengangkut penumpang meski bukan angkutan umum berizin.


Ia berharap pemerintah melalui instansi terkait dapat melakukan penertiban sehingga persaingan usaha angkutan menjadi lebih adil bagi sopir angkutan umum yang menggunakan kendaraan berpelat kuning dan memiliki izin resmi.


"Kami hanya ingin ada ketegasan agar angkutan yang tidak memiliki izin tidak mengambil penumpang. Kalau begini terus, kami semakin sulit bertahan," katanya.


Selain persaingan angkutan, perubahan pola hidup masyarakat juga ikut memengaruhi. Banyak warga kini telah memiliki kendaraan pribadi. Di sisi lain, keberadaan pasar-pasar kampung membuat hasil bumi tidak lagi harus dibawa ke Pasar Pharaa Sentani sehingga kebutuhan menggunakan angkutan umum ikut menurun.


Perjuangan sopir trayek Sentani–Genyem ternyata tidak berhenti di persoalan ekonomi. Mereka juga menghadapi berbagai risiko selama perjalanan.

 

Rute yang panjang melewati sejumlah kampung kerap diwarnai gangguan dari oknum warga yang meminta uang di jalan. Tidak jarang sopir harus berhadapan dengan orang mabuk. Jika permintaan mereka tidak dipenuhi, kendaraan terancam dirusak bahkan sopir bisa menjadi korban kekerasan.

 

"Kami hanya mencari nafkah dan mengantar masyarakat sampai tujuan. Jangan ganggu atau merusak mobil kami. Kalau angkutan ini berhenti beroperasi, masyarakat di kampung juga akan kesulitan pergi ke Sentani untuk menjual hasil bumi atau mengurus keperluan lainnya," harap Pilatus.

 


Di balik deru mesin angkot tua yang masih setia melayani jalur Sentani–Genyem, tersimpan kisah tentang ketekunan dan perjuangan. Di tengah perubahan zaman, mereka tetap bertahan, bukan karena penghasilan yang besar, tetapi karena masih ada keluarga yang menunggu nafkah dibawa pulang setiap hari.(*)

Editor : Weny Firmansyah
Angkot SARMI Jayapura