​Fenomena Kabut Asap Selimuti Jayapura Pemkot Panggil BMKG, Pastikan Udara Masih Aman di Hirup

Jimianus Karlodi • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:53 WIB
Wakil Wali Kota Jayapura, Dr. Ir. H. Rustan Saru, MM, (CEPOSONLINE.COM/JIMMI)
Wakil Wali Kota Jayapura, Dr. Ir. H. Rustan Saru, MM, (CEPOSONLINE.COM/JIMMI)

CEPOSONLINE.COM, ​JAYAPURA - Pemerintah Kota Jayapura akhirnya angkat bicara untuk memberikan kepastian dan kejelasan informasi kepada publik terkait fenomena kabut asap tebal yang belakangan ini menyelimuti kawasan udara Kota Jayapura, khususnya di sekitar area Jembatan Youtefa hingga ke wilayah perkotaan.

​Kemunculan kabut tak biasa ini sempat memicu kekhawatiran masyarakat akan dampak polusi bagi kesehatan. Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Kota Jayapura bergerak cepat dengan memanggil jajaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ke Balai Kota untuk melakukan pertemuan mendesak dan meminta penjelasan teknis secara komprehensif mengenai penyebab fenomena udara tersebut.

​Wakil Wali Kota Jayapura, Dr. Ir. H. Rustan Saru, MM, menyampaikan bahwa dari hasil koordinasi dan paparan resmi BMKG, terungkap bahwa kabut asap yang terhirup warga bukan berasal dari titik api di dalam Kota Jayapura, melainkan merupakan asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari dua lokasi tetangga.

​"Sumber asap ini ada dua, yakni berasal dari negara tetangga Papua Nugini (PNG) dan dari wilayah Merauke, Papua Selatan. Di kedua wilayah tersebut saat ini sedang terjadi kebakaran lahan karena memang sedang mengalami musim kering atau kemarau panjang," ungkap Rustan saat memberikan penjelasan, Rabu (14/10/2026).

​Lebih lanjut Rustan menerangkan, meskipun di Kota Jayapura sendiri masih sering turun hujan karena berada pada pola musim hujan, pergerakan dan pola tiupan angin yang berembus ke arah Kota Jayapura membawa kabut asap dari daerah kemarau tersebut hingga terkumpul dan berdampak pada visual udara di wilayah Jayapura.
​
​Terkait tingkat bahaya polusi bagi paru-paru dan pernapasan warga, Pemkot Jayapura telah melakukan kajian bersama Dinas Kesehatan dan BMKG. Berdasarkan pemantauan indikator kualitas udara minggu ini, kondisi udara Kota Jayapura dipastikan masih dalam kategori aman untuk aktivitas sehari-hari.

​"Setelah kami koordinasikan dengan Dinas Kesehatan dan BMKG, tingkat polusi udara kita saat ini masih aman dan masih bisa kita hadapi. Udara masih bisa dihirup dengan aman tanpa keharusan menggunakan masker, namun pemantauan akan terus kami kawal hingga seminggu ke depan," jelasnya.
​
​Sebagai langkah antisipasi agar kondisi tidak memburuk, Pemkot Jayapura tidak ingin berpangku tangan. Langkah-langkah penanganan lintas daerah langsung ditempuh dengan membangun komunikasi dan koordinasi intensif bersama pemerintah kabupaten tetangga, seperti Kabupaten Keerom dan Kabupaten Jayapura.

​Di tingkat internal, Wakil Wali Kota menginstruksikan seluruh jajaran petugas keamanan dan armada Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk memperketat pengawasan di lapangan. Petugas dikerahkan melakukan patroli keliling guna menyisir wilayah-wilayah yang rawan untuk meminimalisir serta memadamkan potensi titik api sebelum membesar.

​"Petugas Damkar bersama unsur TNI dan Polri terus berkordinasi mendeteksi apakah ada lahan yang terbakar di sekitar kita. Kita mengoptimalkan Tim Satgas Siap Tanggap Darurat Bencana yang siaga penuh selama 24 jam untuk merespons setiap potensi ancaman kebakaran secara cepat," tegas Rustan.

​Mengakhiri penjelasannya, Wakil Wali Kota Jayapura menyampaikan imbauan terbuka kepada seluruh warga masyarakat agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kesehatan diri serta lingkungan sekitar.

​Warga yang memiliki sensitivitas pernapasan dianjurkan untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah demi menghindari paparan kabut asap yang tebal. Selain itu, masyarakat diminta secara tegas untuk tidak memicu potensi kebakaran baru dari tindakan-tindakan kelalaian kecil.

​"Kami ingatkan warga Kota Jayapura untuk tidak membakar sampah sembarangan dan jangan membuang puntung rokok yang masih menyala di sembarang tempat. Mari kita awasi lingkungan dan hutan kita bersama-sama agar tidak ada pemicu kebakaran baru yang dapat memperparah kondisi kabut asap dan merugikan kita semua," pungkas Rustan. (*)

Editor : Lucky Ireeuw
kabut asap Ceposonline.com kota jayapura karhutla BMKG