Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Menilik Pesona Magis dari Pedalaman Waropen Papua: Ritual Kehidupan Warga Kirihi dan Walai

Ismail Ceposonline • 2025-12-01 15:47:07
Warga masyarakat Kirihi dan Walai saat menampilkan peragaan "Cerita Bertahan Hidup di Alam" pada panggung Festival Seribu Bakau Waropen, Sabtu 29 November 2025. (CENDERAWASIH POS/ISMAIL)
Warga masyarakat Kirihi dan Walai saat menampilkan peragaan "Cerita Bertahan Hidup di Alam" pada panggung Festival Seribu Bakau Waropen, Sabtu 29 November 2025. (CENDERAWASIH POS/ISMAIL)

CEPOSONLINE.COM – Bukan sekadar pertunjukan seni, Festival Budaya Bakau Waropen, yang digelar selama tiga malam empat hari itu.

Tetapi sebuah narasi otentik tentang ketahanan hidup yang dibawakan oleh masyarakat Kirihi dan Walai, sukses memukau ratusan pasang mata yang memadati lokasi festival.

Ribuan pasang mata dan alam yang cerah serta pohon bakau yang menjadi simbol Waropen seolah merestui penampilan magis ini. 

Begitu warga dari Kirihi dan Walai melangkah ke panggung, suasana langsung diselimuti rasa penasaran. 

Penonton disajikan visual yang kontras dengan hiruk pikuk modern; tubuh-tubuh yang dibalut busana khas suku pedalaman, mengingatkan pada Suku Dani maupun Mee, membawa esensi alam liar langsung ke tengah kota.

Yang membuat penampilan ini begitu memikat adalah kemampuannya menyuguhkan kebiasaan sehari-hari sebagai sebuah drama yang hidup. 

Mereka tak hanya menari; mereka merekonstruksi kehidupan. 

Dalam diam yang penuh antisipasi, warga Kirihi dan Walai memeragakan adegan demi adegan tentang bertahan hidup di alam liar. 

Penonton diseret masuk ke dalam rutinitas leluhur, mulai dari bagaimana anggota keluarga mencari makanan, memproses hasil buruan atau kebun, hingga momen krusial saat mereka bergotong-royong membuat api hanya dari gesekan batang dan daun kering. 

Puncak dari pertunjukan ini adalah simulasi ritual bakar batu, sebuah tradisi komunal yang sarat makna, menampilkan kebersamaan dan rasa syukur. Kekuatan penampilan ini terletak pada kealamiannya. 

Mereka tidak sekadar berakting; mereka menjadi diri mereka sendiri, sebuah refleksi jujur dari kearifan lokal yang terancam gerusan zaman, membawakan kebiasaan mereka di atas panggung dengan sangat natural.

Kegiatan malam minggu tersebut, yang dideskripsikan sebagai "hiburan rakyat", Festival Seribu Bakau Waropen, benar-benar berhasil menghibur dan menyentuh hati warga Waropen. 

Mereka yang datang berbondong-bondong larut dalam euforia, bangga menyaksikan budaya lokal mereka diangkat ke panggung utama. 

Penutupan Festival Seribu Bakau yang telah berlangsung selama empat hari ini semakin istimewa dengan kehadiran langsung Bupati Waropen, Fransiscus Xaverius Mote., beserta Plh Sekda dan sejumlah unsur Forkompimda lainnya. 

Kehadiran pimpinan daerah ini dan seajumlah pejabat daerah seolah menjadi penegasan bahwa Waropen tidak hanya kaya akan bakau, tetapi juga kaya akan harta tak ternilai: budaya dan tradisi masyarakatnya yang otentik. 

Penampilan Kirihi dan Walai menjadi penutup yang berkesan, meninggalkan pesan bahwa di tengah gempuran modernisasi, roh kehidupan pedalaman Papua akan terus menyala, sehangat api dari tradisi bakar batu.

“Kita harus mencintai budaya kita sendiri.”

“Dari kita agar kita bisa melestarikan alam, dan ini semua untuk anak cucu kita,” ujar Bupati Waropen FX Mote, menutup kegiatan pada sambutannya disambut tepuk tangan para penonton. (*)

Editor : Gratianus Silas
#features #bakau #Ceposonline.com #Waropen #festival budaya