Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Pasokan LPG di Papua Masih Aman, Distribusi Terdampak Geopolitik Global

Priyadi Cepos Online • Jumat, 8 Mei 2026 | 15:00 WIB
Gas LPG yang dijual di salah satu supermen di Kota Jayapura.Pertamina Patra Niaga Regional MOR Papua Maluku memastikan Pasokan LPG di Papua Masih Aman. (Ceposonline.com/Priyadi)
Gas LPG yang dijual di salah satu supermen di Kota Jayapura.Pertamina Patra Niaga Regional MOR Papua Maluku memastikan Pasokan LPG di Papua Masih Aman. (Ceposonline.com/Priyadi)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Kelangkaan gas LPG yang sempat dikeluhkan masyarakat di sejumlah daerah seperti Biak dan Nabire belakangan ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. 

 

Selain stok yang sulit ditemukan, harga LPG non subsidi juga dilaporkan mulai mengalami kenaikan di tingkat pengecer.

 

Menanggapi hal tersebut, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Ispiani Abbas menjelaskan, penyesuaian harga LPG non subsidi seperti Bright Gas ukuran 12 kilogram dan 5,5 kilogram telah diberlakukan sejak 18 April 2026 sesuai mekanisme pasar.

 

Menurutnya, kebijakan tersebut mengacu pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia melalui Permen ESDM Nomor 28 Tahun 2021 tentang Penyediaan dan Pendistribusian LPG.

 

“Pasokan LPG saat ini memang masih terdampak kondisi geopolitik global yang memengaruhi rantai distribusi LPG,” ujarnya. Jumat (8/5/2026).

 

Ia menjelaskan, konflik geopolitik dunia turut memengaruhi distribusi energi, termasuk LPG, karena sebagian besar pasokan LPG nasional masih bergantung pada impor dan distribusi antarpulau menggunakan jalur laut. Kondisi ini berdampak pada jadwal pengiriman, biaya logistik hingga pola distribusi ke wilayah timur Indonesia.

 

Sebagai langkah antisipasi, Pertamina melakukan perubahan jalur suplai LPG untuk wilayah Biak dan Nabire. Jika sebelumnya distribusi dilakukan melalui Surabaya, kini dialihkan melalui Jayapura agar distribusi lebih efektif dan mendekatkan pasokan ke wilayah terdampak.

 

Namun, proses alih suplai tersebut ikut memengaruhi pola distribusi dan ongkos angkut LPG. Terlebih untuk wilayah yang berjarak lebih dari 60 kilometer dari titik suplai Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), biaya transportasi menjadi salah satu faktor penentu harga di lapangan.

 

Meski demikian, Pertamina memastikan ketahanan stok LPG di Papua masih dalam kondisi aman. Saat ini, stok LPG di Integrated Terminal (IT) Jayapura tercatat mampu memenuhi kebutuhan hingga 45 hari ke depan.

 

Pertamina juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying karena pasokan masih tersedia dan distribusi terus diupayakan berjalan normal. 

 

Selain itu, masyarakat diminta membeli LPG sesuai peruntukan, di mana LPG subsidi 3 kilogram diprioritaskan bagi masyarakat kurang mampu dan usaha mikro, sementara Bright Gas diperuntukkan bagi masyarakat mampu dan sektor non subsidi.(*)

Editor : Weny Firmansyah
#Papua Tengah #NABIRE