Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Melihat Produksi Keripik Keladi Jayapura di Kotaraja, Abepura

Administrator • 2018-11-28 03:51:43
Photo
Photo

Pemilik Usaha Keripik Keladi Jayapura Widia Wati, saat menunjukkan hasil produksi Keripik Keladi yang siap  diantarakan ke beberapa toko di Jayapura, Selasa (27/11) kemarin. (FOTO : Yohana/Cepos)



Dibantu 6 Pekerja, Sehari Produksi 1.000 Bungkus Bahkan Lebih


Sebelum terkenal, sempat kesulitan mencari tempat untuk pasarkan . Namun seiring dengan  banyaknya permintaan, karena banyak yang menjadikan Keripik Keladi Jayapura sebagai oleh-oleh dan cemilan ringan, saat ini Usaha keripik keladi Jayapura mampu produksi hingga ribuan bungkus setiap harinya.


Laporan: Yohana_ Jayapura


Widia Wati mulai menekuni usaha keripik keladi sejak tahun 2008. Awalnya ia mulai pasarkan dengan harga Rp 1.000 rupiah/bungkus dan dititipkan di kantin sekolah serta kios-kios kecil.


Setelah 4 tahun menjalankan usaha, di tahun 2012, dirinya mulai menitipkan keripik keladi hasil produksinya, yang dinamai Keripik Keladi Jayapura di Sagu Indah Plaza Jayapura dan di Saga Abepura. Bahkan untuk saat ini sudah dipasarkan hingga Sentani.


Selain usaha yang mulai berkembang, harga Keripik Keladi Jayapura juga mengalami kenaikan, menyesuaikan harga bahan baku. Dari harga sebelumnya Rp 1.000 rupiah/bungkus naik menjadi Rp 8.000/bungkus dan saat ini untuk kemasan kecil Rp 12 ribu/bungkus, sedang Rp 20 ribu dan besar Rp 40 ribu/bungkus.


Diakui Widia Wati,  dalam memasarkan keripik keladi hingga bisa tembus di pasaran seperti supermarket dan sebagainya sangat sulit, karena rata-rata setiap supermarket sudah menjual keripik keladi, atau menjual keripik yang sama seperti yang dirinya sediakan, sehingga untuk memasarkan hasil produksinya dia harus mencari toko yang masih belum menjual keripik keladi dan bisa diajak kerja sama.


“Untuk pemasaran di toko-toko besar yang baru saya jalin seperti di SIP, Saga Group, Viktori Sentani, namun yang paling dominan di Saga karena cabangnya banyak, sehingga sebagian jumlah produksi yang saya siapkan paling banyak ke Saga. Untuk Saga Abepura rata-rata 300 bungkus/hari dengan 3 ukuran kecil, sedang dan besar, belum lagi ke cabang-cabangnya dan toko lain,”ungkap Widia Wati kepada Cenderawasih Pos, Selasa (27/11) kemarin.


Terkait dengan produksi, setiap hari dirinya harus menyediakan 1.000 bungkus bahkan lebih dengan berbagai ukuran, yang kemudian diantarkan kebeberapa toko yang sudah menjalin kerja sama dengan dirinya.


‘’Untuk produksi keripik ini juga sangat bergantung pada bahan pokok yang diperoleh yaitu keladi, jika keladinya banyak jumlah produksi banyak namun jika sedikit hasil produksnya juga sedikit. Untuk produksi 1.000- 1.500 bungkus keripik, saya harus mengumpulkan keladi 6 karung dengan ukuran per karung 50 kg.


Diakuinya,  menjelang Natal pihaknya agak kesulitan mencari keladi karena banyak yang membeli.“Keladi sebagai bahan baku keripik kami dapat dari dari Arso, Sentani, Koya Barat, Koya Timur hingga Nimbokrang,” terangnya.


Lanjutnya, dengan kondisi harga keladi yang tidak tetap kadang mahal kadang murah, pihaknya sudah langsung menentukan harga beli dari petani dengan harga dasar pada saat harga keladi mahal, yaitu Rp 650 ribu- Rp 700 ribu/karung, sehingga pada saat harga murah atau mahal biaya yang dikeluarkan tidak berubah-ubah.


Dalam memproduksi keripik keladi, dirinya dibantu 6 pekerja, di luar dari tenaga pengantar keripik, karena keripiknya cukup diminati maka dirinya harus produksi setiap hari.


‘’Keripik keladi buatan saya sedikit berbeda dengan keripik keladi lainnya. Saya tidak menggunakan bahan kimia atau pengawet makanan, sehingga Keripik Keladi Jayapura hanya mampu bertahan 1-2 bulan. Itupun kalau disimpan ditempat yang aman atau tidak terkena langsung dengan cahaya matahari. Jika dibiarkan di tempat terbuka yang langsung berhubungan dengan sinar matahari maka keripik akan cepat rusak meski hanya seminggu saja.


“Selain keripik keladi saya juga berencana mengolah hasil pertanian lainnya yang ada di Jayapura, karena untuk hasil pertanian di Jayapura bukan hanya keladi saja, tetapi ada umbi-umbian lainnya seperti singkong, ubi talas, pisang dan sebagainya,” jelasnya.


Menurutnya, dengan memanfaatkan hasil pertanian dari para petani, dengan sendirinya ia sudah membantu memberdayakan para petani dengan menemukan pangsa pasar baru.*

Editor : Administrator