El Nino Berdampak, 2.467 Hektare Lahan Dogiyai Terdampak dan 90.040 Warga Terancam

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 13:05 WIB
Kekeringan di salah satu Kampung di Dogiyai. (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)
Kekeringan di salah satu Kampung di Dogiyai. (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)

CEPOSONLINE.COM, NABIRE-Ancaman perubahan iklim ekstrem, khususnya fenomena El Nino, menjadi perhatian terhadap keberlangsungan sektor pertanian dan ketahanan pangan masyarakat di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

 

Ketergantungan warga terhadap pertanian subsisten membuat kerusakan tanaman hortikultura berpotensi mengganggu ketersediaan pangan keluarga serta kehidupan ekonomi masyarakat.

 

Sekretaris HIPMI Dogiyai, Martinus Dogomo, menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat Dogiyai dan wilayah Pegunungan Tengah Papua Tengah menggantungkan kehidupan sehari-hari pada hasil pertanian, terutama ubi jalar (nota), keladi, sayuran hijau, dan buah merah. 

 

Kondisi ini membuat sektor pertanian masyarakat rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Kekeringan berkepanjangan akibat El Nino dapat memengaruhi kelembapan tanah, pertumbuhan tanaman, hingga hasil panen yang menjadi sumber pangan utama masyarakat.

 

“Masyarakat di Kabupaten Dogiyai dan sebagian besar wilayah Pegunungan Tengah Papua Tengah menggantungkan hidup pada sistem pertanian subsisten dengan komoditas hortikultura unggulan, terutama ubi jalar (sweet potato atau nota), keladi, sayuran hijau seperti daun ubi, kol, sawi, serta buah merah,” jelas Martinus kepada media ini via seluler, Minggu, (20/9/2026).

 

Ia mengatakan, ubi jalar menjadi salah satu komoditas yang berpotensi mengalami gangguan ketika terjadi perubahan kondisi tanah.

 

Kekeringan berkepanjangan dapat menyebabkan tanah menjadi kering dan mengeras, sehingga menyulitkan petani dalam mengolah lahan serta menjaga pertumbuhan tanaman.

 

“Ubi jalar sangat bergantung pada kelembapan tanah yang seimbang. Saat kemarau panjang akibat El Niño, tanah di Dogiyai menjadi sangat kering dan mengeras,” katanya.

 

Menurutnya, dampak perubahan iklim juga dapat menghambat siklus tanam dan pembukaan lahan baru. Petani tradisional di Dogiyai umumnya mengandalkan kelembapan alami dalam proses pengolahan tanah dan penanaman bibit.

 

“Kondisi tanah yang mengeras akibat kekeringan membuat alat-alat pertanian tradisional sulit digunakan. Proses penanaman bibit baru terhenti karena bibit hortikultura yang baru ditanam langsung layu dan mati sebelum mengakar,” ungkapnya.

 

Martinus turut mengingatkan ancaman penurunan suhu ekstrem di wilayah dataran tinggi Papua yang dapat berdampak terhadap tanaman hortikultura.

 

Ia menyebut fenomena embun beku atau embun upas sebagai salah satu kondisi yang perlu diwaspadai petani.

 

Fenomena tersebut, menurutnya, dapat menyebabkan kerusakan pada daun tanaman, termasuk daun ubi dan sayuran, sehingga berpotensi menurunkan hasil produksi pertanian. Namun, tingkat kejadian dan dampak embun beku di setiap wilayah perlu dipastikan melalui pengamatan lapangan serta kajian pertanian.

 

“Fenomena embun beku atau embun upas dapat menyebabkan daun-daun ubi dan sayuran menghitam seperti terbakar, kemudian mengalami kerusakan,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, sayuran hortikultura seperti sawi, kubis, dan daun ubi juga memiliki kerentanan terhadap kekurangan air. Apabila kekeringan berlangsung dalam waktu lama, produksi sayuran dapat menurun dan berpotensi memengaruhi ketersediaan pangan segar di pasar lokal Moanemani.

 

“Tanpa adanya hujan, tanaman sayuran mengalami penurunan produksi drastis hanya dalam rentang beberapa minggu kemarau, sehingga dapat memicu kelangkaan sayuran segar di pasar lokal Moanemani,” jelas Martinus.

 

Lebih lanjut, Martinus menilai gangguan terhadap pertanian dapat memberikan dampak langsung terhadap ketahanan pangan keluarga. Masyarakat yang mengandalkan hasil kebun sebagai sumber makanan harian akan menghadapi risiko kehilangan sumber pangan apabila terjadi kerusakan tanaman secara luas.

 

Berdasarkan rekapitulasi data yang disampaikan Martinus, kerusakan lahan pertanian tercatat tersebar di 79 kampung pada 10 distrik di Kabupaten Dogiyai.

 

Total luas lahan yang dilaporkan terdampak mencapai 2.467 hektare, dengan jumlah masyarakat terdampak sebanyak 90.040 jiwa.

 

Dalam data tersebut, Distrik Kamu, Kamu Utara, Kamu Selatan, dan Mapia Tengah masuk dalam kategori kerentanan sangat tinggi. Sementara itu, Kamu Timur, Mapia, Mapia Barat, dan Dogiyai berada dalam kategori kerentanan tinggi. Adapun Distrik Sukikai Selatan dan Piyaiye tercatat dalam kategori kerentanan sedang.

 

Rincian data menunjukkan Distrik Kamu Selatan memiliki luas lahan terdampak terbesar, yakni 410 hektare, disusul Mapia Tengah 330 hektare dan Distrik Kamu 312 hektare. Kondisi ini menggambarkan perlunya perhatian terhadap keberlanjutan produksi pertanian masyarakat, terutama dalam menghadapi risiko perubahan iklim.

 

“Ketahanan pangan masyarakat harus menjadi perhatian bersama. Ketika pertanian terganggu, bukan hanya hasil kebun yang terdampak, tetapi juga kehidupan keluarga yang bergantung pada hasil pertanian tersebut,” pungkasnya. (*)

Editor : Elfira Halifa
kemarau Dogiyai pertanian el nino