CEPOSONLINE.COM, BIAK – Tingkat kegemaran membaca masyarakat Kabupaten Biak Numfor menunjukkan tren positif dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data yang disampaikan Bagian Perpustakaan dan Arsip Sekretariat Daerah Kabupaten Biak Numfor, tingkat kegemaran membaca meningkat dari 33 persen pada 2023 menjadi 52 persen pada 2025.
Kepala Bagian Perpustakaan dan Arsip Sekretariat Daerah Kabupaten Biak Numfor, Harun Saman, mengatakan peningkatan tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya pemerintah daerah dalam memperluas akses bahan bacaan, meningkatkan pelayanan perpustakaan, serta membangun kerja sama dengan sejumlah lembaga masyarakat.
"Tahun 2023 tingkat kegemaran membaca kita berada pada angka 33 persen berdasarkan data Perpustakaan Nasional. Kemudian pada 2024 meningkat menjadi kurang lebih 50 persen, dan tahun 2025 kembali naik menjadi 52 persen. Artinya, kita sudah mulai mendekati rata-rata nasional," ujar Harun saat ditemui seusai kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Perpustakaan di Hotel Mapia Biak, Rabu (4/11).
Menurut Harun, peningkatan budaya membaca tersebut juga didukung keterlibatan berbagai pihak, di antaranya Forum Taman Bacaan Masyarakat, Wahana Visi Indonesia, serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang selama ini aktif membantu pemerintah memperluas layanan literasi hingga ke kampung-kampung.
Sebagai bagian dari upaya mempertahankan tren positif tersebut, pemerintah daerah terus meningkatkan kapasitas para pengelola perpustakaan melalui kegiatan bimbingan teknis. Pesertanya berasal dari pengelola taman bacaan masyarakat, rumah baca, perpustakaan sekolah SMA dan SMK, perpustakaan instansi vertikal seperti kepolisian, hingga perpustakaan lembaga pemasyarakatan.
Harun menjelaskan, kegiatan ini bertujuan membekali para pengelola dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola perpustakaan secara profesional, sehingga mampu meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus menumbuhkan minat baca masyarakat dari berbagai kelompok usia.
"Kita ingin perpustakaan dikelola dengan baik, sehingga bisa meningkatkan budaya baca masyarakat, mulai dari tingkat PAUD, pelajar, hingga masyarakat umum. Ini merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penyediaan bahan bacaan yang sesuai kebutuhan," jelasnya.
Selain pembinaan pengelola, pemerintah daerah juga telah menyalurkan bantuan buku kepada sejumlah taman bacaan masyarakat dan perpustakaan, termasuk perpustakaan di lembaga pemasyarakatan.
"Khusus bagi warga binaan, koleksi buku yang diberikan tidak hanya berupa pengetahuan umum, tetapi juga bahan bacaan keterampilan yang dapat menjadi bekal setelah kembali ke masyarakat," jelasnya.
Dalam Bimtek tersebut, peserta juga diberikan pemahaman mengenai persyaratan memperoleh Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) agar perpustakaan yang dikelola dapat terdaftar secara resmi di Perpustakaan Nasional. Persyaratan itu mencakup legalitas pendirian, kelayakan ruangan, jumlah koleksi buku, hingga pencatatan jumlah dan durasi kunjungan pembaca.
Harun menilai, keberadaan NPP penting untuk memperkuat pendataan dan tata kelola perpustakaan. Dengan administrasi yang baik, pengelola diharapkan dapat mengembangkan layanan yang lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Lebih jauh, Harun menekankan pentingnya transformasi layanan perpustakaan menuju sistem digital. Menurutnya, perkembangan teknologi menuntut pengelola perpustakaan untuk meningkatkan kemampuan dalam menyediakan referensi dan bahan bacaan berbasis digital yang dapat diakses masyarakat secara lebih luas.
"Harapan kami, pengelola perpustakaan semakin profesional. Karena sekarang sudah zaman digital, mereka juga harus meningkatkan keterampilan agar ke depan bahan bacaan dan referensi tidak hanya tersedia secara fisik, tetapi juga dapat diakses melalui internet tanpa harus datang langsung ke perpustakaan," pungkasnya. (*).
Editor : Lucky Ireeuw