Kabut Asap Kepung Biak, Aktivitas Terganggu Sekolah Diliburkan

Ismail Ceposonline • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 07:14 WIB
Kondisi Biak tampak dari udara menjelang pagi hari,Senin (24/8/2026). (ISTIMEWA)
Kondisi Biak tampak dari udara menjelang pagi hari,Senin (24/8/2026). (ISTIMEWA)

CEPOSONLINE.COM, BIAK NUMFOR - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan semakin menebal di Kabupaten Biak Numfor, Papua. 

 

Sejak Minggu (23/8/2026) malam, sejumlah titik di Biak mulai diselimuti asap pekat, dan kondisinya terus memburuk hingga Senin (24/8/2026) pagi ini.

 

 Pemerintah daerah bersama aparat gabungan telah turun ke lapangan, sementara warga diimbau tetap tenang namun waspada.

 

Kebakaran hutan dan lahan di Biak Numfor tercatat sebagai salah satu yang terparah dalam kurun waktu 1 dekade terakhir, mengingat wilayah ini jarang mengalami karhutla dalam skala besar. 

 

Saat ini bahkan jarak pandang di sejumlah kawasan dilaporkan menurun drastis, bahkan disebut hanya tersisa beberapa meter saja — kondisi yang membahayakan pengguna jalan dan pejalan kaki.

 

Bupati Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, dikabarkan turun langsung meninjau lokasi kebakaran bersama tim pemadam kebakaran, jajaran Polres Biak Numfor, dan personel TNI. Sebagai langkah antisipasi, kegiatan belajar-mengajar di sekolah dan perguruan tinggi di Biak diliburkan sementara mulai hari ini.

 

Dari pemantauan sebelumnya, aparat gabungan — termasuk Babinsa dan personel Brimob — telah bergerak memadamkan titik api di sejumlah kampung, salah satunya di Distrik Samofa, yang diduga berawal dari aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar.

 

 Pola serupa turut menjadi salah satu dugaan pemicu meluasnya kebakaran di sejumlah titik lain di Biak, meski penyebab pasti di setiap lokasi masih dalam proses pengecekan aparat.

 

Warga di sejumlah wilayah, termasuk yang bermukim di Pulau Owi, mengaku pemandangan Pulau Biak pada malam hingga pagi hari nyaris tak terlihat lampu, tertutup kabut asap tebal. 

 

Kondisi ini turut memicu antrean warga di kios-kios untuk mendapatkan masker, seiring kekhawatiran meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

 

"Tong su tra bisa lihat cahaya lampu lagi, cuma ada asap, macam dong ada barapen," tulis salah seorang warganet asal Pulau Owi, menggambarkan pemandangan Biak yang tertutup asap tebal.

 

Warga lain melaporkan titik api sempat menjalar hingga mendekati sisa-sisa amunisi peninggalan Perang Dunia II di kawasan Mokmer, sementara petugas pemadam bersama warga sekitar berhasil memadamkan titik api di kawasan Mokmer Pantai.

 

Seorang orang tua murid menceritakan suasana kota yang lengang saat mengantar anak ke sekolah sebelum pengumuman libur diterima, menggambarkannya seperti kota yang sepi ditinggalkan.

 

"Dari Mokmoer Sup bagian dekat gunung ini tabakar sampai su menjalar di Ibdi Sup sampai sisa-sisa Bom (PDII) nih ada sekitar 3-4 bom yang meledak di Mokmer Sup,” jelas warga lain. 

 

“Titik api di Mokmer Pantai di belakang SMA 2 Paray dengan jalan naik ke Puskesmas Paray sudah dipadamkan sama Damkar sama abang-abang Akom (anak Kompleks) dong ada matikan akan, semoga tidak ada yang tangan gatal lagi untuk bakar-bakar lagi’” balas warga Biak dari Biak Timur. 

 

“Tadi pagi saya terlanjur antar anak sekolah dan terasa seperti Kota Hantu. Silent Hill. ini baru ada pemberitahuan kalau anak-anak libur. Semalam cuma diberitahukan kalau pakai masker wajib ke Sekolah,” jelas salah satu warga Biak lainnya. (*)

Editor : Agung Trihandono
Biak Numfor karhutla