Secara keseluruhan kursus kepemimpinan yang mengusung tema
"Kepemimpinan Daerah yang Tangguh di Era Geopolitik Global dan Disrupsi Teknologi Menuju Indonesia Emas 2045” hanya diikuti 23 Bupati dan 2 Wali Kota.
KPPD diselenggarakan sebagai instrumen strategis untuk menumbuhkan karakter negarawan, memperdalam wawasan kebangsaan, serta meningkatkan pemahaman terhadap lingkungan strategis, guna memastikan implementasi Asta Cita berjalan konsisten dan terintegrasi.
Kegiatan hasil kolaborasi antara Lemhannas RI, Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), dan Kementerian Dalam Negeri ini dibagi dalam tiga tahap, yaitu pembekalan selama empat hari di Lemhannas RI, pembelajaran eksekutif selama enam hari di Lee Kuan Yew School of Public Policy (LKYSPP), serta finalisasi dan presentasi rencana aksi selama dua hari di BPSDM Kemendagri.
Gubernur Lemhannas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si menilai kehadiran KPPD ini tidak lepas dari dinamika global yang ditandai oleh perubahan cepat dan kompleksitas tinggi, di mana rivalitas geopolitik di kawasan Indo-Pasifik semakin memberikan dampak signifikan terhadap arah kebijakan ekonomi, stabilitas keamanan, serta keseimbangan sosial, baik di tingkat nasional maupun daerah.
“KPPD juga menjadi sarana penyiapan kader dan pemantapan pimpinan agar memiliki pola pikir yang komprehensif, integral, holistik, integratif, dan profesional. Para peserta diharapkan tumbuh menjadi pemimpin daerah yang bermoral, beretika, berkarakter negarawan, berwawasan nusantara, serta memiliki cakrawala pandang yang luas,” kata Ace.
Sementara itu, Bupati Markus O. Mansnembra menilai, bahwa kegiatan kursus KPPD sangat tepat karena dirancang khusus untuk memperkuat kapasitas dan kapabilitas para kepala daerah dalam menghadapi tantangan tata kelola pemerintahan yang semakin kompleks.
“Ini menjadi ruang yang sangat penting bagi kami para kepala daerah untuk memperkuat perspektif kebangsaan sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan, termasuk dalam merumuskan kebijakan yang adaptif terhadap dinamika global dan kebutuhan masyarakat,” kata Markus Mansnembra dalam releasesnya yang diterima Cenderawaih Pos.
Dikatakan, keberhasilan pembangunan daerah tidak lepas dari sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Karena itu, kolaborasi lintas sektor perlu terus diperkuat agar mampu melahirkan berbagai inovasi pelayanan publik.
“Kami akan berupaya memanfaatkan forum ini sebagai sarana untuk memperluas jejaring, bertukar pengalaman dengan kepala daerah lain, sekaligus menyerap praktek – praktek terbaik yang relevan untuk diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan percepatan pembangunan di Kabupaten Biak Numfor,” katanya.
Melalui kegiatan ini para peserta diberikan penguatan tentang wawasan kebangsaan dan integritas, tentang materi peningkatan pelayanan publik, penyelaraskan program pusat dan daerah, transformasi tata kelola kepemimpinan yang adaptif, kolaborasi lintas sektor, dan reformasi birokrasi, dan sejumlah materi lainnya.
Sekedar diketahui, selama mengikuti program ini, peserta akan mendapatkan pembekalan dari Tenaga Ahli dan Tenaga Profesional Lemhannas RI, Gubernur Lemhannas RI, Menteri Dalam Negeri, Ketua PYC, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dengan materi yang mencakup Tantangan Geopolitik, Asta Cita, Visi Misi dan Program Prioritas Nasional, Pemimpin Berintegritas, Nilai-Nilai Kebangsaan, Ketahanan Nasional, hingga Kewaspadaan Nasional.
Sebagai bagian dari penguatan perspektif internasional, peserta mengikuti program pembelajaran di Singapura melalui sesi Welcome and Programme Opening oleh LKYSPP di Hotel PARKROYAL on Beach Road.
Di negara tersebut, peserta mempelajari praktik terbaik mengenai Governance, Leadership and Accountability, Clean, Green, and Blue: Singapore's Environmental Sustainability Journey, Singapore Public Housing, Digital Transformation in Singapore, Education – Singapore's Experience, Healthcare System in Singapore: A Whole Systems Approach, serta Public Private Partnerships sebagai model tata kelola pemerintahan dan pembangunan berkelanjutan yang dapat menjadi referensi bagi Indonesia. (*)
Editor : Weny Firmansyah