
CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Semangat merawat budaya dan memperkuat kasih kepada sesama menjadi pesan utama dalam penutupan Festival Etnik Religi Tolikara atau FERT 2026, yang berlangsung meriah di Lapangan Pendidikan Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Rabu, 12 Agustus 2026.
Festival yang berlangsung selama dua hari yakni Rabu, (12/8/2026) hingga Kamis, (13/8/2026) ini bukan sekadar panggung hiburan. FERT 2026 menjadi ruang bersama bagi masyarakat, pelajar, pemerintah, tokoh agama, serta berbagai elemen masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai budaya, persaudaraan, keramahan, dan iman yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Tolikara.
Suasana penutupan semakin semarak dengan Parade Budaya Nusantara, pertunjukan musik, penampilan 150 ukulele yang dimainkan para pelajar, hingga atraksi paralayang yang menghiasi langit Karubaga dan menarik perhatian masyarakat serta para tamu undangan.
Di tengah kemeriahan tersebut, Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos. mengajak seluruh masyarakat untuk tidak berhenti pada kemeriahan festival, tetapi menjadikannya sebagai momentum untuk menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat hubungan antarsesama.
Menurut Bupati, kekayaan budaya tidak hanya terlihat dari pakaian adat, tarian, musik, maupun berbagai bentuk kesenian. Lebih dari itu, budaya hidup dalam sikap dan perilaku masyarakat sehari-hari—termasuk bagaimana seseorang menghormati, menyapa, dan memperlakukan sesamanya.
Salah satu nilai budaya yang disebut Bupati sebagai kekuatan masyarakat Lapago, khususnya Tolikara, adalah kebiasaan saling menyapa dan berjabat tangan ketika bertemu.
Sapaan sederhana “Wa... Wa” menjadi simbol keramahan, penghormatan, sekaligus bentuk penerimaan terhadap sesama.
“Ini harus terus kita lestarikan. Di wilayah Lapago, khususnya di Tolikara, setiap kali kita berjumpa pasti saling bersalaman dan menyapa dengan ‘Wa... Wa’. Injil mengajarkan tentang kasih. Karena itu, melalui kegiatan seperti ini kita semakin memperkuat keramahan dan kasih kepada sesama.” Pesan Bupati Willem Wandik.
Pesan tersebut menjadi salah satu makna penting dari FERT 2026: bahwa kemajuan pembangunan tidak boleh membuat masyarakat kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur.
Budaya dan agama, menurut semangat festival ini, bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama ketika budaya diarahkan untuk memperkuat persaudaraan, sementara iman diwujudkan melalui kasih, penghormatan, pelayanan, dan kepedulian terhadap sesama.



