Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi? Pesan Nurhaidah untuk Guru 3T yang Mengabdi di Papua

CEPOSONLINE.COM, NABIRE-Menjadi guru di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) bukan sekadar menjalankan tugas mengajar, tetapi juga menghadirkan harapan bagi anak-anak yang membutuhkan pendidikan. Pengabdian tersebut membutuhkan ketulusan, kasih, dan komitmen untuk tetap hadir di tengah berbagai keterbatasan.
Pesan itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Nurhaidah, saat memberikan sambutan pembukaan kegiatan Penguatan Kapasitas Tenaga Guru Mapega 3T Tahun 2026 Kabupaten Nabire, yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan pada 17-19 September 2026 tersebut secara khusus ditujukan bagi tenaga guru Mapega 3T Kabupaten Nabire. Penguatan kapasitas ini mencakup peningkatan karakter, kompetensi, penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), serta penjelasan petunjuk teknis dan laporan kegiatan.
“Saya sangat merasa terhormat bisa hadir hari ini di tengah Bapak dan Ibu guru yang luar biasa. Ini bukan kegiatan yang biasa-biasa saja, tetapi kegiatan yang luar biasa bagi saya. Kita hadir untuk saling menguatkan dan saling mendorong,” ujar Nurhaidah.
Ia mengatakan, sebagian guru telah mengabdi sejak sebelum menjadi tenaga honorer hingga kemudian bergabung dalam tim guru Mapega Provinsi Papua Tengah yang ditugaskan di daerah 3T.
Karena itu, Nurhaidah mengajak para guru untuk bangga atas pengabdian yang dijalankan dan memahami bahwa tugas tersebut memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan anak-anak Papua.
“Kita memilih menjadi guru bukan karena tugas ini ringan. Menjadi guru itu berat, bahkan sangat berat. Karena itu, kita harus kembali bertanya kepada diri sendiri: mengapa saya mau menjadi guru? Saya percaya, karena ada panggilan,” katanya.
Menurut Nurhaidah, tugas guru berbeda dengan pekerjaan administratif karena pendidik berhadapan langsung dengan manusia yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.
“Kalau saya bekerja di kantor, mungkin saya hanya berhadapan dengan kertas. Kertas itu mau dibuang atau diapakan, mungkin tidak menjadi persoalan besar. Tetapi kalau menjadi guru, kita berhadapan dengan manusia. Manusia membutuhkan hati yang sungguh-sungguh mengasihi. Tidak semua orang bisa menjadi guru,” tuturnya.
Nurhaidah yang juga pernah menjadi tenaga honorer guru mengajak para peserta untuk tidak hanya memandang pengabdian sebagai kewajiban pekerjaan, tetapi sebagai kesempatan memberikan kontribusi nyata bagi generasi Papua.



