Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pemerintah Bebaskan Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik, Diharap Beri Multiflier Efek 

A
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan paparan saat Konferensi Pers Stimulus Pertumbuhan Ekonomi Semester II Tahun 2026 di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (22/6/2026). (Ceposonline.com/ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan paparan saat Konferensi Pers Stimulus Pertumbuhan Ekonomi Semester II Tahun 2026 di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (22/6/2026). (Ceposonline.com/ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)

Advertisement

CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA - Pemerintah membebaskan Bea Masuk impor liquefied petroleum gas (LPG) untuk industri petrokimia serta bahan baku plastik sebagai bagian dari paket stimulus ekonomi semester II 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan tersebut diambil guna menekan biaya produksi dan membantu pelaku industri mendapatkan pasokan bahan baku alternatif sebagai pengganti nafta di tengah ketidakpastian global.

“Arahan Bapak Presiden dengan ketidakpastian situasi, maka pemerintah memberikan insentif untuk impor LPG dan bahan baku plastik. Nah, pemerintah menetapkan Bea Masuk 0 persen untuk impor LPG bagi industri petrokimia," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Advertisement

Pemerintah berharap kebijakan tersebut bisa memberikan manfaat ekonomi hingga Rp2,25 triliun melalui penurunan biaya produksi di sektor terkait.

“Dengan ini, (Bea Masuk 0 persen) diharapkan bisa meningkatkan nilai manfaat bagi sektor ekonomi sebesar Rp2,25 triliun berupa pengurangan cost bagi industri terkait dan efek multiplier efek atau efek pengganda yang bisa didorong,” kata dia.

Tarif Bea Masuk impor LPG diturunkan dari 5 persen menjadi 0 persen guna membantu menekan harga komoditas tersebut. Sebab, harga LPG mengalami kenaikan akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Advertisement

Selain LPG, Bea Masuk 0 persen untuk bahan baku plastik juga diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga, mengingat plastik masih menjadi bahan utama kemasan berbagai produk makanan.

Menko Airlangga memandang kebijakan tersebut diperlukan untuk menekan harga jual produk plastik di dalam negeri yang belakangan ikut terdampak kenaikan harga nafta, salah satu produk turunan minyak yang menjadi bahan baku industri plastik.

"Pemerintah mengharapkan dengan adanya bahan baku plastik yang 0 persen ini juga akan membantu terkait dengan inflasi, terutama hampir seluruh packaging makanan dibungkus dengan plastik sambil kita menunggu perkembangan daripada situasi," jelasnya.

Lebih lanjut, pemerintah juga membebaskan bea masuk impor suku cadang pesawat sebagai bagian dari paket stimulus yang sama.

Advertisement
Editor : Agung Trihandono

Artikel Terkait

Harga Gas LPG 12 Kg di Merauke Tembus Rp 400 Ribu  

Harga Gas LPG 12 Kg di Merauke Tembus Rp 400 Ribu  

Kendati sama-sama berada di daerah pesisir pantai, namun harga  gas LPG di Kota Jayapura dibandingkan dengan Kota Merauke sangat menjolok. Jika di Kota Jayapura, untuk LPG 12 kg dijual dengan harga Rp 280.000, maka di Me

Setelah Sempat Menembus Rp500 Ribu, Harga LPG di Nabire Kini Berangsur Normal

Setelah Sempat Menembus Rp500 Ribu, Harga LPG di Nabire Kini Berangsur Normal

Masyarakat Kabupaten Nabire kini dapat sedikit bernapas lega. Setelah sempat mengalami lonjakan harga hingga menembus Rp500 ribu per tabung, harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) mulai berangsur turun seiring membaiknya pa

Harga Melejit, Polda Papua Tengah Plot Tim Khusus Awasi Distribusi LPG di Mimika

Harga Melejit, Polda Papua Tengah Plot Tim Khusus Awasi Distribusi LPG di Mimika

Kepolisian Daerah (Polda) Papua Tengah resmi menerbitkan Surat Perintah (Sprint) Pengawasan guna mengawal rantai pasok Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Kabupaten Mimika dan Nabire. 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer