Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ini Alasan FORMAMA Malind Anim Kondo Digoel Bawa Salib Merah dan Lumuri Badan dengan Lumpur Putih

Y
Para demo saat berada i di depan kantor bupati dengan salib merah dan tubuh dilumuri Lumpur putih, Selasa (2/9/2026). (CEPOSONLINE.COM/SULO) 
Para demo saat berada i di depan kantor bupati dengan salib merah dan tubuh dilumuri Lumpur putih, Selasa (2/9/2026). (CEPOSONLINE.COM/SULO) 

Advertisement

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Masyarakat adat dari Forum Masyarakat Adat (FORMAMA) Malind Anim Kondo Digoel menggelar aksi demo Damai ke Kantor Bupati Merauke, Rabu (2/9/2026). 

Dalam aksi ini, mereka membawa salib berwarna merah dan melumuri tubuh mereka dengan tanah berwarna putih. Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap pembangunan jalan Program Strategis Nasional (PSN) sepanjang 135 kilometer di Kabupaten Merauke.

Dalam aksi tersebut, masyarakat adat mendesak Bupati Merauke mencabut Surat Keputusan (SK) yang berkaitan dengan pembangunan jalan PSN tersebut. Mereka menilai penerbitan SK dilakukan tanpa sosialisasi yang memadai kepada masyarakat adat di wilayah terdampak.

Advertisement

Hanya saja para pendemo tersebut tertahan diluar pagar, karena kedua pintu masuk dan keluar ditutup. Beberapa saat kemudian, para pendemo ditemui Sekretaris Daerah Kabupaten Merauke Yermias Paulus Ruben Ndiken. mereka sempat tertahan, namun setelah negosiasi akhirnya para pendemo tersebut masuk ke halaman kantor bupati.  

Koordinator Lapangan (Korlap) I, Simon Petrus Balagaize, mengatakan salib merah yang dibawa dalam aksi merupakan simbol doa dan tangisan masyarakat adat atas kondisi hutan dan tanah adat yang mereka nilai terdampak akibat pembangunan.

“Hari ini kami datang dengan salib merah. Kami akan berdoa terus bagi pemerintahan yang melakukan kesalahan kepada kami, masyarakat adat. Salib ini adalah sembah dan sujud dari tangisan masyarakat. Tidak boleh menganggap remeh,” kata Balagaize dalam orasinya.

Advertisement

Selain membawa salib merah, para peserta aksi juga melumuri tubuh dengan Lumpur berwarna putih.

 Menurut Balagaize, warna putih tersebut merupakan simbol duka atas kondisi hutan yang mereka nilai telah mengalami kerusakan.

“Hari ini kami datang dengan lumpur putih. Ini adalah tanda duka. Tanda duka karena hutan kita habis,” ujarnya.

Balagaize  mengklaim pembukaan lahan telah berdampak terhadap wilayah masyarakat adat dalam skala luas. Menurutnya, kondisi tersebut dapat dilihat langsung di lapangan.

Advertisement
Editor : Lucky Ireeuw

Artikel Terkait

Bintang Kejora Berkibar di USTJ, Massa dan Aparat Bentrok

Bintang Kejora Berkibar di USTJ, Massa dan Aparat Bentrok

Situasi keamanan disekitar Kampus USTJ hingga depan Korem 172/PWY mendadak tegang. 

Berpotensi Ricuh, TNI Siap Dilibatkan Dalam Pengamanan Demonstrasi Hari ini

Berpotensi Ricuh, TNI Siap Dilibatkan Dalam Pengamanan Demonstrasi Hari ini

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Mayjen TNI Muhammad Nas memastikan TNI siap dilibatkan dalam pengamanan aksi demonstrasi pada K

Waspadai Penumpang Gelap Pada Aksi Demo 27 Agustus 

Waspadai Penumpang Gelap Pada Aksi Demo 27 Agustus 

Institusi Polri merespons secara normatif rencana aksi demonstrasi besar yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (27/8) besok.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer