
Oleh Entang Sastraatmadja*)
Jakarta, 26/4 (ANTARA) - Beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) layaknya hadir sebagai solusi di tengah gejolak harga pangan.
Maka kehadiran program ini kemudian menjadi salah satu instrumen kebijakan yang tidak hanya teknokratis, tetapi juga sarat makna keberpihakan
Program ini memang dirancang untuk menjaga stabilitas harga beras, sekaligus memastikan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah tetap memiliki akses terhadap pangan pokok yang layak dan terjangkau.
Dengan harga acuan sekitar Rp13.500 per kilogram, SPHP menjadi jembatan antara kebutuhan masyarakat dan tanggung jawab negara dalam menjaga keseimbangan pasar.
Namun, memahami SPHP tidak cukup hanya pada angka dan distribusi.
Program ini sesungguhnya adalah refleksi dari dinamika sistem pangan nasional yang kompleks.
Program ini bergerak di antara fluktuasi harga pasar, ketimpangan pasokan antarwilayah, hingga tantangan distribusi yang tidak selalu mulus.
Karena itu, dinamika bukan sekadar perubahan, melainkan interaksi antara berbagai faktor yang menentukan apakah kebijakan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Tujuan SPHP sendiri sangat jelas dan strategis. Pertama, mengendalikan harga beras agar tetap stabil. Kedua, meningkatkan akses pangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Ketiga, memperkuat ketahanan pangan nasional. Dan keempat, mengurangi ketergantungan pada impor dengan memastikan ketersediaan beras di dalam negeri tetap terjaga.
Keempat tujuan ini jika dijalankan secara konsisten akan membentuk fondasi ekonomi yang lebih tahan terhadap guncangan, terutama di sektor pangan yang sangat sensitif.
Dikelola Bulog
Pertanyaan penting yang sering muncul adalah apakah beras SPHP sama dengan beras Bulog? Di sinilah publik perlu mendapatkan pemahaman yang lebih jernih.



