
PADANG, 04/12 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) terus melakukan percepatan penanganan infrastruk tur pascabencana hidrometeo rologi terutama pada objek vital yang menjadi penghubung logis tik demi kelancaran ekonomi masyarakat.
"Terutama penanganan longsoran di kawasan jalan nasional Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar agar dapat segera diselesaikan dan fung sional," kata Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy di Padang, Kamis.
Sebab, ruas tersebut merupakan objek vital Sumbar yang menjadi jalur utama logistik penghubung menuju Provinsi Riau sehingga percepatan penanganan menja di sangat penting. Termasuk pula demi memulih kan kelancaran arus transporta si, mobilitas masyarakat, distri busi logistik serta perekonomian masyarakat di provinsi itu.
Vasko menegaskan, pemerintah terus berkomitmen untuk hadir, mengawal serta mendukung pe nuh langkah-langkah yang dip erlukan agar penanganan di kawasan Lembah Anai yang saat ini putus total dapat diselesaikan secepat mungkin.
Sementara itu, Kepala Balai Pe laksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar Elsa Putra Friandi meng atakan, pihaknya terus berkoor dinasi dengan pemerintah prov insi dalam rangka percepatan penanganan lokasi-lokasi longsoran di Sumbar terutama di kawasan Lembah Anai.
Menurut dia, mayoritas lokasi atau titik terdampak bencana pada ruas jalan nasional telah ditangani dengan cepat oleh tim BPJN Sumbar, namun lokasi den gan tingkat kerusakan paling berat berada di Lembah Anai sehingga memerlukan perhatian dan penanganan khusus.
Secara umum, penanganan di ruas jalan Padang Panjang-Sicin cin tersebut terus dipercepat demi memulihkan konektivitas kawasan Lembah Anai. Kondisi terkini dalam tanggap darurat, jelas dia, telah dilakukan normalisasi pada titik-titik long sor untuk membersihkan mate rial yang masih menutup aliran air serta mengurangi potensi longsor susulan.
Termasuk pula adanya pema sangan geotex di kilometer 63+500 sebagai langkah penguatan darurat dimana material tersebut ber fungsi untuk membantu separa si, filtrasi serta pengendalian erosi sehingga struktur tanah di area kritis tetap stabil dan tidak mudah tergerus air.** (Pewarta : Muhammad Zulfikar)



