
CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Kematian mendadak usai berolahraga umumnya lebih sering diidentifikasikan dengan orang dewasa akibat serangan jantung. Namun, ketika peristiwa serupa menimpa anak-anak dan remaja, dampaknya meninggalkan duka mendalam sekaligus memicu pertanyaan penting mengenai keamanan aktivitas fisik di usia muda.
“Kematian mendadak pada usia muda umumnya tidak disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah jantung seperti yang sering terjadi pada orang dewasa. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah kelainan jantung bawaan atau gangguan struktur jantung yang sudah ada sejak lahir, tetapi belum terdeteksi,” jelas Pakar Kardiologi dari Rumah Sakit Spesialis KPJ Tawakkal Malaysia, Dr. Zulhilmi Yaakob dilansir Jawapos.com.
Zulhilmi menjelaskan, beberapa gangguan tersebut di antaranya meliputi hypertrophic cardiomyopathy, atau penebalan otot jantung, serta arrhythmogenic right ventricular cardiomyopathy atau jaringan otot jantung yang sebagian digantikan oleh lemak dan jaringan parut.
Pakar Kardiologi dari Rumah Sakit Spesialis KPJ Tawakkal Malaysia, Dr. Zulhilmi Yaakob. (Istimewa). Problemnya, lanjut Zulhilmi, kondisi tersebut kerap tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga anak atau remaja bisa tampak sehat dan aktif berolahraga. Guna mengantisipasi risiko fatal, lanjutnya, orang tua diminta memperhatikan riwayat kesehatan keluarga, seperti adanya kasus kematian mendadak sebelum usia 50 tahun.
"Keluhan anak seperti pingsan tanpa sebab atau jantung berdebar tidak normal juga tidak boleh diabaikan," katanya. Pemeriksaan lanjutan seperti EKG atau ekokardiogram dapat dilakukan sesuai anjuran tenaga medis.Selain pencegahan dari sisi kesehatan, kesiapan sekolah dan penyelenggara kegiatan juga memegang peranan krusial. Sekolah tidak hanya dituntut menyediakan fasilitas olahraga, tetapi juga sistem darurat yang memadai.

