Jeritan Hati Sopir Angkot Sentani–Genyem di Tengah Perubahan Zaman

Sudah bertahun-tahun sopir angkutan umum trayek Sentani–Genyem mengeluhkan pendapatan yang terus menurun.
Demi mendapat nomor antrean, mereka rela berangkat sejak tengah malam. Namun hingga siang hari, tak jarang mobil belum juga penuh penumpang. Seperti apa kisah perjuangan para sopir angkot ini?
Jarum jam baru menunjukkan pukul 11.00 WIT, Kamis (23/7/2026), Di Terminal Pasar Pharaa Sentani, deretan angkutan umum trayek Sentani–Genyem masih sabar menunggu giliran.
Mesin-mesin mobil dimatikan, para sopir duduk termenung di balik kemudi sambil berharap penumpang segera memenuhi kursi. Namun harapan itu kini semakin sulit menjadi kenyataan.
Sekadar diketahui dulu, trayek Sentani–Genyem menjadi salah satu jalur primadona alias menjadi angkutan yang ramai. Kini kondisinya jauh berbeda 180 derajat. Kehadiran taksi online, mobil pikap atau yang dikenal masyarakat sebagai "blakos", serta semakin banyak warga yang memiliki kendaraan pribadi membuat penumpang angkot terus berkurang.
Bagi para sopir, menunggu penumpang bukan lagi hitungan menit, melainkan berjam-jam.
Salah satunya dirasakan Miskun. Sopir yang telah puluhan tahun mencari nafkah di trayek ini mengaku harus berangkat dari rumah sejak pukul 00.00 WIT agar mendapat nomor antrean lebih awal di terminal.
"Datang dari tengah malam supaya dapat nomor antrean. Tapi sampai jam 11 siang kadang belum juga berangkat karena masih menunggu penumpang," ujarnya.
Dalam sehari, mobil kijang Doyok berkapasitas sembilan penumpang itu belum tentu terisi penuh. Padahal, ongkos perjalanan Sentani–Genyem hanya Rp35.000 per orang. Jika kursi kosong, pendapatan yang diperoleh jauh dari cukup untuk menutup biaya operasional.
Belum lagi harga suku cadang kendaraan yang terus meningkat, kewajiban membayar pajak kendaraan, hingga sulitnya memperoleh solar bersubsidi yang membuat sopir harus menghabiskan waktu mengantre di SPBU.



